Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan
⇝Ada saatnya kita untuk berhenti mengejarnya, sekalipun semalam dia adalah orang yang pernah kita perjuangkan mati-matian... :(
Mungkin
kemarin dia adalah alasan mengapa kamu berhijrah, tapi saat ini kamu
harus yakin, tanpanya jalan ini selalu ramai dan begitu bermakna...
Walaupun
kini semuanya telah berubah, fikirlah dengan baik, apa arti
kebersamaanmu dengannya bila hanya dipenuhi dengan kekecewaan dan sakit
hati... :(
Ada hal yang memang tak dapat dipaksakan, ada hal
yang memang tak bisa untuk dimiliki sekuat apapun usahakmu, sebesar
apapun pengorbananmu, semua akan percuma saja, karena bahagianya mungkin
bukan bersamamu..
Disini kamu harus berusaha sekuat mungkin
untuk menata bahagiamu yang telah dia bawa pergi, berbesar hatilah bila
dia memilih yang lain, tapi ingatlah satu hal, jika kamu tetap bersedih
karena dia, maka sungguh itu adalah kebodohan yang nyata, mengapa kamu
mencintainya lebih besar daripada kamu mencintai Allah???
Dia yang tak bisa kamu salahkan dengan cintanya, sekalipun awalnya kamu bingung kenapa dia seperti itu?
Bukanlah
salahnya jika dia memilih yang lain, karena jodoh adalah misteri dan
anggap ini adalah bagian dari proses pendewasaanmu, untuk belajar
menerima kenyataan bahwa tak semua yang indah itu bisa kita miliki...
Hatur nuhun A :(
Hafidz Hanifudin. +ايدا هياتي
"Jangan pernah membandingkan kecantikan gadis yang kamu sayang dengan
kecantikan orang diluar sana, karena kebahagiaan bukan sekedar
ditentukan oleh cantiknya wajah dan indahnya make up, tetapi oleh
keanggunan berperangai, kelembutan dalam bertutur kata dan kenyamanan
saat kamu bersamanya ....
Sememangnya setiap insan telah diciptakan dengan takdir yang sangat unik dan sempurna, dengan kelebihan yang berbeda,....
Jika banyak kelebihan darinya anggaplah sebagai bonus dari Allah yang diberikan di dunia..
Jika banyak kekurangan bersyukurlah karena kekurangan dia karena banyaknya kelebihan yang ada padamu untuk membuatnya sempurna,....
Yang penting bersyukur dengan yang lebih dan bersabar, yang membuat dunia nampak sempurna kita rasakan,... +ايدا هياتي
"Ingat…10 Karakter Muslim / Muslimah Sejati Karakter ini merupakan pilar pertama terbentuknya masyarakat Islam maupun tertegaknya sistem Islam dimuka bumi serta menjadi tiang penyangga peradaban dunia. Kesepuluh karakter itu adalah :
Salimul Aqidah, Bersih Akidahnya dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya dari lubang syirik.
Shahihul Ibadah, Benar Ibadahnya menurut Al-Qur’an dan As-sunnah serta terjauh dari segala Bid’ah yang dapat menyesatkannya.
Matinul Khuluq, Mulia Akhlaknya sehingga dapat menunjukkan sebuah kepribadian yang menawan dan dapat meyakinkan kepada semua orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin).
Qowiyul Jismi, Kuat Fisiknya sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Allah SWT.
Mutsaqoful Fikri, Luas wawasan berfikirnya sehingga dia mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya.
Qodirun ‘alal Kasbi, Mampu berusaha sehingga menjadikannya seorang yang berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Mujahidun linafsihi, Bersungguh sungguh dalam jiwanya sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain.
Haritsun ‘ala waqtihi, Efisien dalam memanfaatkan waktunya sehingga menjadikannya sebagai seorang yang pantang menyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, walau sedetikpun. karena waktu yang kita gunakan selama hidup ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Munazhom Fii Su’unihi, Tertata dalam urusannya sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya. Dapat menyelesaikan semua masalahnya dengan baik dengan cara yang baik.
Naafi’un Li Ghairihi, Bermanfaat bagi orang lain, sehingga menjadikannya seseorang yang bermanfaat dan dibutuhkan. Keberadaannya akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi orang lain dan Ketiadaannya akan menjadikan kerinduan pada orang lain. Mudah-mudahan dengan kesepuluh karakter yang dikemukakan diatas menjadikan kita termotivasi untuk dapat merealisasikannya dalam diri kita.
Aamiin. . . Catatan : * 10 karakter Muslim / Muslimah sejati ini dirumuskan oleh Hasan Al-bana
Dibalik Kebesaran Nama-Nya
Empat belas abad silam, dalam sebuah malam yang paling indah, muncullah sebuah pesona cinta sepasang pengantin paling bahagia Hanzhalah bin Abi Amir bersama sosok muslimah yang dicintainya. Detik berlalu tiada terasa, saat fajar pertama nampak terdengar gemuruh perang, tatkala kaum muslimin berjihad di jalan Allah. Pemuda itu termangu, akankah ia tinggalkan masa bulan madunya dan segera menyongsong syahid atau membiarkan dirinya tenggelam menikmati manisnya madu cinta. Namun kecintaannya terhadap Allah ‘Azza wa Jalla Sang Pemilik nama yang husna dan sifat yang ‘ulya (tinggi), membuatnya lebih memilih-Nya. Itulah kehebatan kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada nama dan sifat-Nya telah mengantarkan Hanzhalah bin Abi Amir mendapatkan karunia syahid.Seorang hamba sejati akan mampu merasakan puncak kecintaan manakala di hatinya hanya mencintai Dzat Yang Maha Sempurna lagi Maha Agung dengan kecintaan ‘ubudiyyah (penghambaan). Semua ini terealisasi dari makna syahadat laa ilaaha illallah. Allah disembah dengan hati, cinta, ketundukan dan kepatuhan.
Perhatikanlah bagaimana para tukang sihir Fir’aun akhirnya beriman kepada Allah meski mereka mengalami penyiksaan dan pembunuhan. Itulah cahaya iman yang telah membuat mereka memandang kehidupan dunia secara proposional dan mementingkan kebahagiaan kekal di akherat.
فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (72)
إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (73)
“….Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami, dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik ( pahala-Nya ) dan kekal Adzab-Nya.” (Q.S. Thoha: 72 – 73).Orang yang beriman dan mengakui keindahan serta kebesaran nama Allah, hatinya akan tersentuh dan bergetar manakala nama-Nya diucapkan atau diperdengarkan. Sebagaimana orang mengasihi pasangan hidupnya, orang tuanya atau anak-anaknya, tentunya ia sangat ingin bersua, memandang wajahnya dan mendengar untaian kata-katanya. Seolah-olah tak ingin berpisah dan ingin selalu berdekatan.
Terlebih lagi ketika seorang hamba begitu mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, merindukan untuk bisa berjumpa dan memandang wajah-Nya, tentunya inilah wujud kecintaan tertinggi agar dia bisa menjadi penghuni surga.
Begitu pula kisah fenomenal sahabat Mush’ab bin Umair yang rela meninggalkan kehidupan jahiliyah yang bertabur kemewahan, ini merupakan bukti nyata betapa pesona iman telah membuat hidupnya berubah. Semua itu tak lain karena keindahan nama-Nya yang telah membuat hatinya jatuh cinta kepada Islam. Itulah wujud bahwa kebahagian hakiki hanya ada pada Islam, bersama Allah ‘Azza wa Jalla dengan melaksanakan ajaran Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seberapa dahsyat perasaan cinta seorang hamba kepada Allah, Sang Pemilik segala sesuatu yang memiliki nama-nama yang husna. Semakin seseorang mengenal Allah akan tumbuh pengetahuan yang mendalam tentang kemahatinggian, kemuliaan dan segala kemahaindahan Allah Ta’ala. Allah pemilik segala sesuatu dan tiada nama seindah nama-Nya, kepada-Nya lah segalanya akan kembali.
Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia dan paling dicintai oleh Allah karena penghambaannya kepada Allah paling sempurna. Beliau adalah gambaran ideal bagaimana seorang hamba mencintai kekasihnya, menyembah dan menundukkan diri secara total kepada Allah, tiada sekutu bagi-Nya.
وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ كاَدُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا
“Dan, bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah) hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya.” ( Q.S. Al-Jin :19).Cinta itu Indah
Ada sebuah perumpamaan menarik yang menggambarkan betapa mencintai Allah itu sangat indah tak sebanding dengan kilauan harta yang paling indah. Seperti seorang raja yang memiliki teman setia yang sangat akrab dan saling mencintai. Sang raja memerintahkan segenap pejabatnya untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta kerajaan. Dan mereka saling berebut mengambil harta sebanyak-banyaknya. Namun sang teman setia sang raja justru sama sekali tak mengambil sedikitpun harta raja. Justru yang dilakukannya adalah memegang erat sang raja. Banyak orang heran dengan sikap anehnya, “Kenapa anda tak melirik harta raja?” Dia mengatakan, “Aku memegang beliau karena dia pemilik segala harta yang kalian perebutkan, ketika aku memilih beliau otomatis segala harta akan mudah kuperoleh.”
MaasyaAllah…….sebuah pesan singkat bahwa seringkali manusia mengejar dunia yang fana dan melupakan sang pemilik segalanya, Dialah Allah ‘Azza wa Jalla. Mengejar dunia takkan pernah mencapai titik kepuasan, ibarat mereguk air laut semakin banyak, kian merasa haus.
Saat pesona dunia menari-nari di depan mata dan mulai menyusup di relung-relung hati saat itu sedikit demi sedikit pesona kebesaran asma’ dan sifat-Nya akan memudar. Keindahan nama-Nya tak lagi mampu membuatnya terpesona karena hatinya telah didominasi kenikmatan semu sesaat. Selama kecintaannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla terkontaminasi dengan kecintaan kepada selain-Nya, maka tauhidnya kurang sempurna, atau bahkan bisa terjerumus ke dalam syirik cinta.
وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَا دًا يُحِبُوْنَهُمْ كَحُبِّ الله وَالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا للهِ
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.. (Q.S. Al-Baqoroh: 165).Nama-Nama Allah ‘Azza wa Jalla Semuanya Husna.
Seorang mukmin harus meyakini bahwa semua nama-nama Allah itu husna, maksudnya adalah terindah, yang keindahannya mencapai puncak kesempurnaannya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَللهِ الْأَسْمَاءُ اْلحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا
“Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.” (Q.S. Al-A’raf: 180).Nama-nama Allah mengandung sifat-sifat-Nya yang sempurna, tidak ada sedikitpun kekurangan dari segala sisi.
Contoh: Al-Hayyu (Yang Maha Hidup), merupakan salah satu nama Allah yang mengandung sifat kehidupan sempurna yang tidak didahului dengan ketiadaan dan tidak akan mengalami kebinasaan.
Nama terindah adalah nama Allah, sedangkan sifat paling sempurna adalah sifat Allah. Semulia-mulia ilmu adalah ilmu tentang tauhid, tentang nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla. Namun realitanya banyak kaum muslimin yang meremehkan ilmu Tauhid, padahal tauhid yang benar dan selaras dengan Al-Qur`an dan Sunnah adalah kunci untuk masuk surga.
Banyak orang begitu pandai ilmu dunia, melanglang di berbagai negara dengan semangat membara namun sangat disayangkan mereka buta dan tidak tahu ilmu yang paling utama dan mulia, yaitu ilmu tentang Allah, Dzat yang telah menciptakan mereka. Sungguh, dengan tauhid yang lurus, ma’rifatullah (mengenal Allah) dan aplikasinya dalam kehidupan, niscaya umat ini akan jaya, mulia dan selamat hidupnya.
Sumber: https://muslimah.or.id/
Beliau seorang tokoh terkemuka dari generasi tabi’ut tabi’in. Al-Fudail bin Iyadh adalah sosok ahli ibadah yang banyak menghabiskan waktunya di Mekah dan Madinah. Kehidupannya penuh dengan cahaya ilmu, amal serta istiqomah dalam membela kebenaran. Dan salah satu kelebihannya yang dianugerahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya adalah di munculkan banyak hikmah melalui lisannya.
Dari Abdullah Ash-Shomad Mardawaih Ash-Sha’igh, dia berkata: “Ibnul Mubarok berkata kepadaku bahwa sesungguhnya Al-Fudhail merupakan bukti kebenaran kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan dimunculkan hikmah melalui lisannya. Dia termasuk manusia yang dikaruniai manfaat dari amal-amalnya.” (Siyar A’lam An Nubala 8/ 425). Diantara mutiara hikmah yang diungkapkannya adalah: “Kosongkan hatimu untuk sedih dan takut, sampai keduanya dapat bersarang. Apabila sedih dan takut bersarang dihatimu, maka keduanya akan membentengimu dari melakukan maksiat dan menjauhkan dirimu dari api neraka.” (Siyar A’lam An-Nubala 8/ 438 ).
Rasa takut dan sedih akan siksanya membuat hatinya begitu memiliki harapan besar untuk selalu dekat dengan Allah Ta’ala. Begitu pula saat disebut-sebut nama Allah atau mendengar ayat-ayat-Nya, rasa takut dan sedih itu selalu memenuhi hati dan pikirannya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah, dia berkata, “Aku belum pernah melihat seorangpun yang lebih takut kepada Allah daripada Al-Fudhail dan ayahnya.”
Dari Muhammad bin Thufail, dia berkata, “Aku mendengar Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Sedih (karena Allah) di dunia menghilangkan keresahan di akhirat dan (terlalu) gembira di dunia menghilangkan manisnya beribadah.”Perkataan beliau merupakan wujud nyata betapa beliau sosok yang bening hatinya, dalam ilmunya serta mampu merealisasikan mutiara-mutiara hikmah yang sarat dengan keagungan iman, dan penghambaan yang tulus kepada Rabb-nya yang begitu dicintainya.
Ada sebuah nasehat indah yang layak ditulis dengan tinta emas, dan menjadi renungan kita bersama. Al-Fudhail bin Iyadh berkata (kepada dirinya) “Wahai, kasihannya engkau…..engkau berbuat buruk, tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau tidak tahu, tetapi merasa selevel dengan ‘ulama’, engkau kikir, tetapi engkau merasa dermawan, engkau pandir, tetapi merasa berakal (cerdas), ajalmu pendek , namun angan-anganmu panjang.” ( Siyar A’lamin Nubala 8/ 440 ).
Subhanallah, dalam sekaligus penuh pesan moral yang luar biasa dari ungkapan-ungkapan beliau, Allah memberinya kecerdasan batin hingga dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla kaum muslimin mampu mendapatkan faedah tak ternilai untuk menjadi seorang mukmin yang ikhlas, qona’ah dan menjalani roda kehidupan selaras dengan syari’at-Nya.
Hidupnya laksana cermin tak jauh beda dengan apa yang beliau katakan. Dan itulah teladan yang konkret dan dijadikan aspirasi positif dalam membangun jatidiri membentuk karakter Islami sebagai seorang mukmin sejati. Adz-Dzahabi berkata, “Ditanyakan kepada Al-Fudhail bin Iyadh: “Apakah zuhud itu?” . Dia menjawab, “Banyak qona’ah,” lalu ditanyakan, “Apakah wara’ itu?” Al-Fudhail menjawab, “Menjauh dari sesuatu yang dilarang Syari’at,” Dan ketika ditanyakan, “Apakah ibadah itu?” maka Al-Fudhail menjawab, “Melaksanakan sesuatu yang diwajibkan,” Lalu ditanyakan pula, “Apa itu tawadhu‘?” Al-Fudhail menjawab, “Anda tunduk kepada Yang Haq. Dan ketahuilah sesungguhnya Wara’ terberat itu terletak pada lisan.”
Salah satu sifat menonjol beliau adalah sangat peduli dan perhatian terhadap murid-muridnya. Sesuatu ketika ia mendatangi salah satu muridnya yang tengah sakaratul maut. Beliau membimbingnya untuk bersyahadat tetapi lisannya tak mampu mengucapkan bacaaan syahadat. Beliau mengulang-ulangi bacaan syahadat, namun muridnya mengatakan, “Saya tidak dapat mengucapkannya,” hingga Al-Fudhail berlepas diri darinya. Beliaupun menangis setelah kematian sang murid, beliau bermimpi dalam tidurnya ternyata murid tersebut setiap tahun meminum segelas arak agar sembuh dari penyakitnya.
Demikianlah sekilas pandangan perkataan dan hikmah dari episode kehidupan Al-Fuhail bin Iyadh, Semoga kita bisa mengambil ibrah berharga yang mampu menambah nutrisi keimanan dan mewariskan energi positif untuk meneladaninya.
***
Referensi :
– Yang Aku Khawatirkan Atas Umatku, Abu Yahya Badrussalam, Penerbit Nashirussunah, 2012
– Hiburan Orang-orang Shalih ( terjemah ) , Muhammad Amin Al-Jundhi , Pustaka Arofah.
– 60 Biografi ‘Ulama Salaf (terjemah), Syaikh Ahmad Farid, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2006.
Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah
Sumber: https://muslimah.or.id/
Translate
About Me





