Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Ilmu yang diamalkan menjadi amalan yang tidak terputus walaupun seseorang telah meninggal dunia. Ilmu yang bermanfaat menjadi “penolong” dan tetap mengalirkan pahala untuk seseorang walaupun ia telah tiada.
Apa yang terpikir saat mendengar kata “warisan”? Tanah, emas,
uang, harta, atau rumah beserta isinya? Semua itu bisa jadi benar. Tak
jarang kebanyakan orang mempermasalahkannya ketika kedua orangtuanya
meninggal. Bahkan masalah warisan sudah ramai dibahas tatkala keduanya
masih hidup. Malah tidak sedikit yang saling bunuh hanya karena masalah
ini. Astagfirullah.
Harta, tanah, perhiasan dan sebagainya akan habis seiring berjalannya
waktu. Jika tidak digunakan dalam kebaikan, maka harta tersebut hanya
hilang tanpa arti. Bahkan bisa menjadi beban kelak di yaumil akhir.
Berbeda dengan ilmu, warisan yang satu ini takkan habis dilekang waktu.
Walaupun sudah tua atau sudah meninggal dunia, ilmu tetap hidup dan
berkembang sesuai perkembangan zaman.
Ilmu yang diamalkan menjadi amalan yang tidak terputus walaupun
seseorang telah meninggal dunia. Ilmu yang bermanfaat menjadi “penolong”
dan tetap mengalirkan pahala untuk seseorang walaupun ia telah tiada.
Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka
terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu
yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh” (HR. Muslim no.1631)
Harta berbuah kebaikan jika dikelola dengan ilmu. Harta yang dikelola
dengan baik dan dibelanjakan di jalan Allah dapat menjadi “penolong”
manusia kelak walaupun telah tiada. Begitu juga dengan anak. Mendidik
anak harus tahu ilmunya. Jika salah ilmunya atau bahkan tidak tahu
ilmunya, maka berimbas pada anak itu sendiri dan kepada kedua
orangtuanya.
Warisan Rasulullah
Pada suatu hari Abu Hurairah berdiri di pasar Kota Madinah. Kemudian dia
berkata kepada para pedagang, “Wahai para pedagang, mengapa kalian
masih belum menutup dagangan kalian?” Mereka bertanya kebingungan, ” Ada
apa kiranya ya Abu Hurairah?”
Abu Hurairah menjawab, “Apakah kalian tidak tahu kalau warisan Muhammad
saw tengah dibagi-bagikan sehingga kalian masih berdiri di sini? Apakah
kalian tidak ingin mengambil bagian kalian?” Dengan keinginan yang
meluap mereka bertanya serius, “Di mana ya Abu Hurairah?!” “Di Masjid
Rasulullah,” jawab Abu Hurairah.
Setelah diberitahu demikian, para pedagang itu segera bergegas ke Masjid
Rasulullah, sedangkan Abu Hurairah tetap tinggal di situ, tidak ikut
pergi.Tak Berapa lama kemudian para pedagang itu kembali ke pasar.
Abu Hurairah bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian kembali?” Mereka
segera menjawab dengan nada kesal, “Ya Abu Hurairah, kami telah datang
ke masjid, tetapi setiba di sana kami tidak melihat ada sesuatu yang
dibagikan Rasulullah.”
Abu Hurairah bertanya lagi, “Apakah kalian tidak melihat seorang pun di
masjid?”. “Bukan demikian ya Abu Hurairah, kami melihat banyak orang
tetapi bukan yang seperti yang kau maksud. Kami melihat banyak orang
sedang salat, sementara sekelompok lainnya ada yang mengaji al-Quran,
dan ada pula yang sedang memelajari soal-soal yang haram dan halal,”
jawab para pedagang dengan agak sewot.
Mendengar uraian para pedagang tersebut, Abu Hurairah menjelaskan,
“Wahai para pedagang, ketahuilah, itulah warisan Muhammad saw yang
paling berharga untuk kalian semua.” (HR. Tabrani)
Banyak benda peninggalan Rasulullah yang tersimpan di beberapa museum.
Di antaranya Museum Topkapy di Istambul Turki, Yordania, Irak dan
negara-negara Timur Tengah lainnya. Beberapa benda peninggalan
Rasulullah itu, di antaranya: kunci Ka’bah zaman Nabi Muhammad saw, baju
gamis, jejak kaki, beberapa helai rambut dari janggut Nabi Muhammad
saw, pedang milik Nabi Muhammad saw, surat yang pernah ditulis Nabi
Muhammad saw, pintu emas makam Nabi Muhammad saw, dan lain-lain.
Dari sekian banyak benda–benda peninggalan Nabi itu, ternyata al-Quran
dan Hadits sebagai warisan peninggalan Rasulullah yang paling berharga.
Keduanya menjadi pedoman umat manusia ke jalan yang benar hingga akhir
zaman. Itu artinya, ilmu ternyata lebih penting daripada harta. Dengan
ilmu, seseorang dapat menjalani kehidupannya dengan selamat, baik di
dunia maupun di akhirat.
“Alif Laam Raa… (ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu
(Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya
terang benderang dengan izin Tuhan, (Yaitu) menuju jalan Tuhan yang
Maha Perkasa lagi Maha terpuji.” (QS. Ibrahim [14]: 1)
Belajar dari Negeri Sakura
Enam hari setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada
1945, Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II (1942-1945).
Kaisar Hirohito (bertakhta 1926-1989) berupaya membangun kembali
bangsanya yang sudah porak-poranda itu. Ia memerintahkan menteri
pendidikannya untuk menghitung jumlah guru yang tinggal dan masih hidup.
Satu sumber menyebutkan, jumlah guru yang tersisa di Jepang pada saat
itu adalah sebanyak 45 ribu orang. Sejak itu, Kaisar Hirohito gerilya
mendatangi para guru tersebut dan memberi perintah juga arahan. Rakyat
Jepang saat itu sangat menjunjung titah dari kaisar.
Mengapa saat itu kaisar Jepang lebih mementingkan jumlah guru daripada
jumlah perusahaan atau jumlah pabrik yang tersisa? Itu artinya, kaisar
Jepang lebih tahu mana yang lebih menjamin kehidupan rakyatnya. Dengan
ilmu yang dimiliki para guru tersebut, lihatlah kondisi Jepang sekarang.
Setelah pengeboman yang menyakitkan itu, kini Jepang menjadi negara
maju dari berbagai sisi.
Namun, memiliki ilmu saja tidak cukup. Ini karena ilmu juga harus
didasari dengan iman kepada Allah SWT. Apalagi Allah akan meninggikan
orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Allah SWT berfirman, "… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. al-Mujadalah [58]: 11)
Mengapa Allah SWT menggandengkan antara iman dan ilmu? Karena kedua kata
tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang sangat erat. Jika orang
bertambah ilmunya, maka semestinya bertambah juga imannya. Dengan ilmu
dan iman yang dimiliki, maka semestinya semakin cintalah manusia kepada
pencipta-nya. Karena pada hakikatnya ilmu diciptakan Allah agar manusia
mengenal dan menjadi dekat dengan-Nya. Wallahu ‘alam bishawab. (Astri Rahmayanti)
http://www.daaruttauhiid.org/artikel/read/artikel-islami/654/warisan-berharga-itu-bernama-ilmu.html✍ Asy Syeikh Al Utsaimin rohimahullah:
Ⓜ Pada kesempatan ini aku ingin menyampaikan bahwa gerakan gerakan didalam sholat terbagi menjadi 5 macam: gerakan yang wajib, gerakan yang sunnah, gerakan yang makruh, gerakan yang harom, gerakan yang mubah.
🏹📪 Adapun gerakan yang wajib, yaitu gerakan yang mengahruskan seseorang melakukan perkara yang wajib, seperti seseorang ketika sedang sholat kemudian dia ingat pada imamahnya ada najisnya, maka pada keadaan yang demikian ini dia harus melepas imamahnya, ini adalah gerakan yang wajib.
🍥 Dalilnya bahwa Nabi Shollallahu alaihi wa sallam ketika sholat didatangi oleh Jibril, kemudian Jibril mengabarkan kepada Beliau sholallahu alaihi wa sallam bahwa pada sandal beliau ada kotorannya, maka beliau shollallahu alaihi wa sallam melepas kedua sandalnya di pertengahan sholat kemudian beliau melanjutkan sholatnya.
🍥 Ini adalah gerakan yang wajib, qoidahnya adalah: gerakan yang wajib adalah gerakan mengharuskan melaksanakan perkara yang wajib atau meninggalkan sesuatu yang harom.
🏹📪 Gerakan yang sunnah, yaitu gerakan untuk melakukan perkara yang sifatnya sunnah, seperti bergerak mendekat kepada sof tetangganya untuk menutup celah yang kosong, ini adalah gerakan yang sunnah.
🏹📪 Gerakan yang makruh, yaitu gerakan yang tidak perlu dan tidak ada kaitannya dengan kesempurnaan sholat.
🏹📪 Gerakan yang harom, yaitu gerakan yang banyak dan berulang ulang, seperti seseorang ketika berdiri dia melakukan gerakan gerakan yang sia sia, demikian pula ketika ruku', sujud, ketika duduk, dia terus melakukan gerakan gerakan yang sia sia ini sehingga dia tidak seperti orang yang sedang sholat, maka ini gerakan yang harom karena akan membatalkan sholatnya.
🏹📪 Gerakan yang mubah, yaitu selain dari gerakan gerakan diatas, seperti seseorang menggaruk gatal pada tubuhnya, atau imamahnya turun ke matanya sehingga dia menganggkatnya, atau ada seseorang yang minta izin kepadanya kemudian dia mengangkat tangannya untuk memberikan izin kepada orang itu, maka ini adalah gerakan yang mubah/boleh.
••••••••••••••••••••••••••
📥 Sumber: Fatawa Arkanil Islam 341-342
💾 Telegram: https://bit.ly/Berbagiilmuagama
📑 Alih bahasa: Abu Arifah Muhammad Bin Yahya Bahraisy
"Ilmu agama yang bermanfaat, anak sholeh yang selalu mendoakan ortunya dan sedekah jariyah adalah di antaraamalan yang bermanfaat bagi mayit walaupun ia sudah di alam kubur. Simak sajian singkat berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Faedah dari hadits di atas:
Pertama: Jika manusia itu mati, amalannya terputus. Dari sini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaklah memperbanyak amalan sholeh sebelum ia meninggal dunia.
Kedua: Allah menjadikan hamba sebab sehingga setelah meninggal dunia sekali pun ia masih bisa mendapat pahala, inilah karunia Allah.
Ketiga: Amalan yang masih terus mengalir pahalanya walaupun setelah meninggal dunia, di antaranya:
a. Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat serta berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah.
b. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan, atau ia menulis buku agama yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.
c. Anak yang sholeh karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh. Lalu anak tersebut menjadi sebab, yaitu ortunya masih mendapatkan pahala meskipun ortunya sudah meninggal dunia.
Keempat: Di antara kebaikan lainnya yang bermanfaat untuk mayit muslim setelah ia meninggal dunia yang diberikan orang yang masih hidup adalah do’a kebaikan yang tulus kepada si mayit tersebut. Do’a tersebut mencakup do’a rahmat, ampunan, meraih surga, selamat dari siksa neraka dan berbagai do’a kebaikan lainnya.
Kelima: Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “atau anak sholeh yang mendo’akannya”, tidaklah dipahami bahwa do’a yang manfaat hanya dari anak saja. Bahkan do’a kebaikan orang lain untuk si mayit tersebut tetap bermanfaat insya Allah. Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan melakukan shalat jenazah terhadap mayit lalu mendo’akan mayit tersebut walaupun mayit itu bukan ayahnya.
Keenam: Dalam hadits terdapat isyarat adanya keutamaan menikah, juga terdapat dorongan untuk menikah dan memperbanyak keturunan supaya mendapatkan keturunan sholeh (sehingga bermanfaat nantinya ketika kita telah meninggal dunia, pen).
Semoga sajian singkat ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.
http://madinatulquran.or.id/Ustadz Muhammad Abduh Tausikal
Di dalam Al-Quran Allah berfirman:
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal [8]: 30).
Imam Ahmad menguraikan berkenaan dengan firman Allah tersebut, berkaitan dengan orang-orang kafir Quraisy yang tengah menggelar pertemuan di Makkah, dengan satu tujuan hendak menangkap, memenjarakan, atau membunuh atau mengusir Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Mereka gelisah dan ketakutan dengan dakwah Nabi yang makin hari makin banyak orang bersimpati bahkan bergabung ke dalam ajarannya, Al-Islam. Ajaran yang mengajarkan agar menyembah, beribadah, berhukum, berpemimpin dan setia hanya kepada Allah robbul ‘alamin.
Ya, dakwah yang sangat fenomenal sepanjang 13 tahun di Mekkah, telah memberikan pengaruh sangat besar hari demi hari di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan para pemuda.
Para pejabat, pembesar, tokoh di kota Mekkah pun melakukan rapat gabungan untuk mengantisipasi pesatnya perkembangan dakwah Islam. Dalam rapat tersebut telah diketengahkan tiga rencana; pertama menjebloskan Nabi ke dalam penjara. Kedua, mengucilkan Nabi jauh dari kota Mekkah. Dan ketiga, membunuh Nabi. Akhirnya dipilih rencana ketiga untuk membunuh Nabi.
Pada ayat lain Allah menyebutnya dengan:وَإِنْ كَادُوا لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الأرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا وَإِذًا لَا يَلْبَثُونَ خِلافَكَ إِلا قَلِيلا
Artinya: “Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekkah) untuk mengusirmu darinya; dan kalau terjadi demikian, niscaya-sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja”. (QS Al-Isra [17]: 76).
Pada saat itu juga, Fatimah puteri Nabi, masuk menemui Nabi, yang juga ayahnya, seraya menangis. Maka Nabi bertanya, “Wahai puteriku, apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Fatimah menjawab, “Wahai ayahku, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan golongan orang-orang yang terkemuka dari kabilah Quraisy telah membuat perjanjian atas nama Lata, Uzza, dan Manat di Hijir, bahwa seandainya mereka melihatmu, maka mereka akan bersama-sama bangkit ke arahmu untuk membunuhmu secara beramai-ramai. Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan telah mengenali bagiannya dari darahmu.”
Beliau pun kemudian meminta kepada puterinya, “Ambilkanlah air wudhu untukku.” Lalu Rasulullah berwudhu, kemudian keluar menuju masjid.
Ketika mereka orang-orang kafir Quraisy melihat Nabi, mereka serentak berteriak, “Ini dia orangnya!”
Namun dengan serta merta kepala mereka tiba-tiba tertunduk dan mereka tidak dapat mengangkat pandangannya.
Lalu Rasulullah mengambil segenggam pasir dan menaburkannya di atas kepala mereka seraya bersabda, “Semoga wajah-wajah ini kelilipan.”
Maka, kelak pada Perang Badar setelah Nabi hijrah ke Madinah, tiada seorang lelaki pun dari mereka yang terkena oleh pasir itu, melainkan tewas di medan tempur Perang Badar dalam keadaan kafir.
Allah pasti sangat mengetahui hal itu, dan memperlihatkan kepada Nabi-Nya tercinta atas hal itu. Maka Ali bin Abi Thalib ditugasi Nabi untuk tidur di tempat tidur Nabi sementara beliau keluar rumah.
Lalu beliau keluar sendirian melewati kaum Musyrik yang telah berada di depan pintu rumahnya. Nabi pun atas perintah Allah, menebarkan pasir kepada mereka, dan seketika mereka tertidur, kemudian beliau taburkan pasir itu ke atas kepala mereka.
Mereka tidak dapat melihatnya karena Allah telah menutupi mata mereka dari Nabi-Nya hingga mereka tidak dapat melihatnya.
Nabi saat itu membaca firman-Nya, Surat Yaasiin ayat 1-9:
يسٓ (١) وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡحَكِيمِ (٢) إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ (٣) عَلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (٤) تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ (٥) لِتُنذِرَ قَوۡمً۬ا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَـٰفِلُونَ (٦) لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ (٧) إِنَّا جَعَلۡنَا فِىٓ أَعۡنَـٰقِهِمۡ أَغۡلَـٰلاً۬ فَهِىَ إِلَى ٱلۡأَذۡقَانِ فَهُم مُّقۡمَحُونَ (٨) وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيہِمۡ سَدًّ۬ا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدًّ۬ا فَأَغۡشَيۡنَـٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ (٩)
Artinya: “Yaa Siin. (1) Demi Al Qur’an yang penuh hikmah, (2) sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (3) [yang berada] di atas jalan yang lurus, (4) [sebagai wahyu] yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (5) Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (6) Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan [ketentuan Allah] terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. (7) Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka [diangkat] ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. (8) Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding [pula], dan Kami tutup [mata] mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (9). (QS Yasin [36]: 1-9).
Pada saat mereka memasuki pagi hari, mereka menyerbu. Saat mereka melihat Ali, mereka bertanya, “Mana sahabatmu ini?” Ali pun menjawab, “Saya tidak tahu.”
Lalu mereka mengikuti jejak Muhammad yang mereka cari. Setelah mereka sampai di bukit, mereka menjadi kebingungan, lalu mereka menaiki bukit itu dan melewati Goa Tsur. Mereka melihat pada mulut gua itu ada sarang laba-laba. Mereka berkata, “Seandainya Muhammad memasukinya di sini, pastilah sarang laba-laba ini tidak ada.”
Setelah tiga hari tiga malam bersembunyi di dalam Goa Tsur, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disertai sahabat setianya Abu bakar Ash-Shiddiq melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah.
Lalu, setibanya di Madinah, Allah menurunkan kepadanya surat Al-Anfal ayat 30 tersebut, yang artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal [8]: 30).
Dari ayat tersevut paling tidak terdapat dua dua hal besar yang dapat kita ambil pelajarannya.
Pertama, logika, tipu daya, makar, dari para penentang dakwah Allah adalah dengan menebar ancaman penjara, teror dan pengucilan. Sedangkan cara yang dilakukan para Nabi dalam menyebarkand akwahnya adalah dengan mengajar, membina, dan membersihkan jiwa.
Kedua, Allah tidak tidur, “Gusti Allah mboten sare”, kata orang Jawa. Bahwa Allah akan senantiasa melindungi para pengikut jalan kebenaran. Karena itu, barangsiapa yang melakukan konspirasi terhadap mereka kaum Mukminin, terhadap orang-orang shalih, terhadap ulama pewaris para Nabi, maka berarti akan berhadapan dengan Allah. Dan Allah sendiri yang akan membalasnya.
Dan melindungi, menyelamatkan, menolong serta membela orang-orang beriman adalah memang sudah menjadi kewajiban Allah.
Seperti Allah tegaskan di dalam ayat:
ثُمَّ نُنَجِّى رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ كَذَٲلِكَ حَقًّا عَلَيۡنَا نُنجِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (١٠٣)
Artinya: “Kemudian Kami selamatkan Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. (QS Yunus [10]: 103).
Semoga Allah menolong mereka orang-orang beriman yang istiqamah, ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah. Aamiin. (RS2/RS1)
http://mirajnews.com/2017/06/allah-sebaik-baik-pembalas-tipu-daya.html"Dokumentasi terhadap situs-situs penting dan aktivitas keagamaan di Arab Saudi, ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup panjang. Terutama, dokumentasi fotografi dua situs utama umat Islam di negara petro dolar tersebut yaitu Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid an-Nabawi di Madinah.
Belakangan, terungkap sejumlah manuskrip langka dari tulisan tangan seorang militer Mesir, yaitu Muhammad Shadiq Beik.
Dalam setidaknya empat karyanya tersebut, para sejarawan menyimpulkan jepretan sosok sersan di kemiliteran Mesir tersebut menggunakan kamera yang sangat langka pada masanya itu.
Hasil bidikan teruta atas Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi. Kesemuanya tertuang dalam empat karyanya yang paling penting berjudul “Misy’al al-Muhmal”. Tebalnya hanya 60 halaman dan terbit pertama kali pada 1867.
Tidak hanya demikian, bahkan gambar-gambar foto yang dia hasilkan merupakan dokumentasi penting terhadap obyek-obyek vital Arab Saudi pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Foto-foto tersebut diambil selama kunjungannya di Arab Saudi pada 1860 dan 1880. Dia juga menggambarkan sketsa peta dengan tulisan tangan dan catatan penting sebagai pedoman yang memudahkan para haji, ketika itu. Ini antara lain meliputi nama-nama terminal, desa, nama jalan, hingga gang-gang di perkotaan.
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/17/06/20/orum2t320-ini-fotografer-dan-foto-tertua-untuk-masjid-alharamCinta jarak jauh adalah, dua orang yang saling
mencintai,namun ia
terpisahkan oleh jarak yang jauh di sana, Terhalangi oleh
perbatasan Waktu.
Namun inilah tips Cinta jarak jauh:
1. Jika engkau merindukannya,maka Rindukanlah dia dalam
Munajatmu agar ia sama ,
merindukanmu dalam
Munajatnya..
2. Jika engkau Teringat akan Kasih sayangnya, maka Do'akanlah agar
ia selalu dalam keadaan yang baik,dan selalu dalam lindungan-NYA..
3. Jika engkau Takut
kehilangannya.. Maka angkatlah tanganmu dan pejamkan matamu.. Dan katakanlah
'' Ya ALLAH aku sangat menyayanginya,
aku sangat merindukannya, dan
aku takut kehilangannya, Maka jagalah ia untukku, Ya ALLAH.sungguh Ku titipkan ia kepada-MU.. dan Sayangilah ia dengan
Kasih sayang-Mu agar selalu dalam lindungan-MU,Aamiin..
4. Yakinlah, Cinta jarak jauh ini tidak akan selamanya..
Percayalah bahwa suatu saat nanti Cinta ini akan bersatu dalam ikatan yang Suci..
Insya Allah, Aamiin ya Allah..
Untukmu Yang nun jauh disana..
Tak ingin kujanjikan
kebahagiaan..
Karena aku takut kau kecewa..
Aku hanya ingin kau merasakan Kebahagiaan bersamaku itu nyata..
Aku tahu dalam setiap
lamunanku..
Kita berpisah oleh jarak ruang dan waktu..
Merambat dalam setiap pikiran..
Memecahkan semua
kegundahan di jiwa..
Hanya sebuah kepastian dan kepercayaan..
Hanya sebuah kerinduan dan keinginan..
Kesetiaan yang selalu aku
tancapkan..
Kini menjadi sebuah keyakinan..
Kita terhalang oleh jarak dan waktu..
Tapi kita kan selalu menunggu sampai menyatu..
Aku dan kamu dalam jarak yang tak menentu
Tapi cinta ini akan selalu
untukmu..
Walau saat ini jarak
memisahkan kita..
Aku tetap berharap kamu akan selalu setia..
Cinta ini, rasa ini dan rindu ini akan selalu kujaga..
Demi cinta kita berdua..
Hingga hari bahagia itu kan tiba..
Saat kita menyatu dalam ikatan suci yang ALLAH ridhoi..
Tuk bisa membentuk keluarga yg sakinah,mawadah warahmah..
Aamiin Ya Robbal'Alamiin..
google +
"Diantara
Milyaran bahkan angkanya yang pasti tak pernah kita tahu berapa manusia
yang telah menjejakkan kakinya di dunia ini, Kenapa Allah SWT hadirkan
kita hidup di hari ini?
Allah SWT tak akan pernah salah memilih
jasad bagi setiap ruh, yang di mana masing-masingnya punya tugas. Tugas
untuk taat, tugas untuk memilih mau hidup seperti apa, penuh maksiat,
atau menjalankan syariat.
Ketika Allah SWT, pilihkan kita hidup
hari ini, Ia titipkan jasad kita dalam rahim ibu tercinta. Dia pun
memilih rahim yang tepat untuk jasad ini.
Masya Allah, manusia
mana yang mampu memperkirakan ini. Bahkan dirinya yang seringkali angkuh
sekali pun, tak mampu menaruh ruhnya pada jasad yang dikehendakinya.
Itulah Rabb, ada misteri ia hadirkan dalam hidup ini.
Semua
misteri itu akan tersibak, jika kita bersimpuh kepada Allah SWT.
Bersimpuh dia henti, mencari jawaban hidup hingga mati menjelang, dengan
kesantunan, dengan keteraturan dalam ketaatan.
Maka,
melangkahlah dengan menggenggam kebenaran islam, Ciptakan setiap moment
begitu berharga, hingga kita menyadari kenapa Allah SWT hadirkan kita
hidup di masa sekarang. Ukirlah keindahan bukan mengukir kehancuran.
Ukirlah goresan gemilang peradaban islam, hingga kita merasa tiada rugi
hadir ini masa.
Like & Share untuk saling mengingatkan sahabat kita..
"Firasat yang benar milik hati yang bersih dan suci dari berbagai macam kotoran dan kedekatannya dengan Allah> Dia melihat dengan cahaya Allah yag dimasukkanNya ke dalam hatinya. Di dalam At-Tirmidzi dan lain-lainnya disebutkan dari hadits Abu Sa’id, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Takutilah oleh kalian firasat orang mu’min, Karena dia memandang dengan cahaya Allah.”
Firasat
ini muncul Karena kedekatannya dengan Allah. Jika hati sudah dekat
dengan Allah, maka penghalang-penghalang keburukan terputus darinya,
yang tadinya menghalanginya untuk mengetahui dan mengenali kebenaran. (
Ibnu Qayyim al-jauziyyah. Ar-Ruh Lil Ibnil Qayyim. Hlm 387 )
Seseorang
akan terjatuh dengan sendirinya sebagai akibat dari perbuatannya yang
berusaha melakukan tipu muslihat atau kebohongan terhadap orang yang
beriman, sebab ketidakjujuran didalam dirinya akan membawa
ketidaknyamanan hati, yang pada akhirnya harga dirinya hanya akan
tersembuhkan manakala muncul kesadaran untuk jujur mengakui kesalahannya
di depan orang yang beriman dan beristighfar.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah ....” (QS al-Maidah: 6)
Seperti shalat, telah banyak penelitian yang membuktikan khasiat wudhu. Salah satunya adalah psikiater sekaligus neurolog berkebangsaan Austria, Prof Leopold Werner von Ehrenfels.
Ia menemukan, wudhu mampu merangsang pusat saraf dalam tubuh manusia. Menurutnya, dari keselarasan air dengan wudhu dan titiktitik saraf, kondisi tubuh akan senantiasa sehat. Karena temuan itu, von Ehrenfels akhirnya memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.
Berbagai penelitian ilmiah juga membuktikan bahwa munculnya penyakit kulit merupakan akibat dari rendahnya kebersihan kulit. Karenanya, orang dengan aktivitas padat (terutama di luar ruangan) dianjurkan membasuh atau mencuci anggota badannya yang terbuka sesering mungkin.
Dalam pandangan para ulama fikih, wudhu adalah bagian dari upaya untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani yang secara langsung ataupun tidak, berdampak pada kesehatan. Anggota-anggota tubuh yang dibasuh dengan air wudhu seperti tangan, muka, telinga, dan kaki, adalah daerah yang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing, termasuk kotoran. Karenanya, sejumlah penelitian menyim pulkan, berwudhu dapat menghindarkan seseorang dari berbagai macam penyakit.
Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers a Sport for the Body and Soul menjelaskan, wudhu dapat mencegah kanker kulit. Jenis kanker itu lebih banyak disebabkan oleh bahanbahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Jika dibersihkan dengan air (terutama saat wudhu), bahan kimia itu akan larut. Ia menambahkan, wudhu juga membuat seseorang tampak lebih muda.
Temuan itu diamini dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Iskandariyah, Muhammad Salim, yang meneliti manfaat wudhu bagi kesehatan. Ia menemukan, berwudhu dengan cara yang baik dan benar akan mencegah seseorang dari berbagai penyakit.
Di antara metode penelitian yang dilakukannya, Salim menganalisis perbedaan kesehatan hidung orang-orang yang tidak berwudhu dan yang berwudhu secara teratur lima kali sehari untuk mendirikan shalat. Ia mengambil zat dalam hidung yang terdapat pada selaput lendir, dan mengamati beberapa jenis kuman yang terdapat di dalamnya.
Dari analisis yang dilakukan selama berbulan- bulan, Salim menemukan lubang hidung orang-orang yang tidak berwudhu memudar dan berminyak. Selain itu, terdapat kotoran dan debu pada bagian dalam hidung, dengan permukaan yang tampak lengket dan berwarna gelap.
Sedangkan orang-orang yang teratur ber wudhu, ungkap Salim seperti dikutip Muhammad Akrom (2010) dalam Terapi Wudhu, per mukaan rongga hidungnya tampak cemerlang, bersih, dan tidak berdebu. “Sesungguhnya, cara berwudhu yang baik adalah dimulai dengan membasuh tangan, berkumur-kumur, lalu mengambil air dan menghirupnya ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya. Langkah ini hendaknya dilakukan sebanyak tiga kali secara bergantian,” katanya.
Wudhu itu menyehatkan, dan Rasulullah SAW adalah bukti terpenting dari fakta tersebut. Singkatnya, ilmu tentang mencegah penyakit dan menjaga kesehatan dengan wudhu dapat dipelajari dari sejarah hidup Rasulullah SAW. Muhammad Husein Haykal (1993) dalam Hayatu Muhammad (Kehidupan Muhammad) meng ungkapkan, sepanjang hidupnya Rasulullah tak pernah menderita sakit, kecuali saat sakaratul maut dan ketika dilukai oleh musuh-musuhnya.
Terakhir, tentunya, keajaiban wudhu adalah membersihkan rohani. Seperti dijelaskan dalam hadis Nabi SAW, “Apabila seorang hamba Allah berwudhu dan berkumur, maka keluarlah dosadosa dari mulutnya; apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dosa-dosa dari tangannya, sampai keluar dari bawah kuku jari-jarinya; apabila ia membasuh kepalanya, maka keluarlah dosa-dosanya dari bawah kedua telinganya; dan apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dosa-dosa dari kakinya, sampai di bawah kuku kakinya (HR Ibnu Majah).
http://khazanah.republika.co.id/
Kadang aku berpikir, perasaan rindu itu seperti hujan. Kita bisa
menantinya reda, tapi tak bisa menghentikannya. Payung, jas hujan, atap
rumah, adalah bukti bahwa manusia tak pernah menang dari hujan. Seperti
halnya manusia tak pernah mampu mengalahkan perasaan rindu..kecuali
pura-pura.
Menikahlah dengan dia, seseorang yang membuatmu tidak
harus menjadi orang lain. Yang dia, senantiasa memaklumi kekuranganmu.
Ia hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum saat tingkahmu
malu-maluin, misalnya. Ia tidak ilfiel. Tidak jengkel. Ia mengerti bahwa
pasangan-nya adalah seorang manusia, bukan malaikat.
.
Menikahlah
dengan dia, seseorang yang membuatmu nyaman dalam hal apapun. Yang dia,
tidak mengekang segala hobi dan kebiasaanmu (yang baik). Sebab tugas
pernikahan adalah untuk melengkapi, bukan untuk menguasai.
.
Menikahlah
dengan dia, seseorang yang mencintai kamu sebagai teman perjalanan,
bukan sebagai pembantu apalagi tukang masak. Ia tahu bahwa istrinya
adalah untuk didekap di dada, bukan ditunjuk di muka.
.
Menikahlah
dengan dia, seseorang yang selalu berikhtiar tuk bahagiakanmu dunia
juga akhirat. Ia berpeluh keringat banting tulang demi kamu di siang
hari. Tapi, ia juga tak pernah absen menemani shalatmu di malam hari.
.
Maka
duhai perempuan, lebih baik terlambat menikah daripada TERPAKSA memilih
lelaki yang kamu tahu betul bahwa dia tidak baik. Yang kamu tahu bahwa
dengan-nya kamu tak pernah merasa nyaman.
.
Ingatlah bahwa
penderitaan seorang perempuan, tidak dimulai dari rahim siapa ia
dilahirkan. Tapi penderitaan-nya dimulai saat dia sengaja memilih
pendamping yang tidak baik.
.
Maka saudariku, pilihlah seseorang, yang semakin mendekatkan-mu dengan-Nya, 'azza wa jalla.
Nabi Muhammad Saw pernah bersabda
tentang keutamaan Imam Ali Karramallaahu wajhah. Oleh Nabi Saw, Imam Ali
diibaratkan seperti Nabi Harun As di sisi Musa As. “Hanya saja, tidak
ada lagi nabi setelahku,”
kata Nabi Saw.
kata Nabi Saw.
Tak diragukan lagi bahwa diantara semua
tokoh di generasi Islam, Imam Ali merupakan tokoh yang paling banyak
mewarisi ilmu Nabi Muhammad Saw. Nabi pun pernah bersabda, “Aku adalah
Kota Ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin mendatangi
sebuah kota, hendaklah dia melewati pintunya.”
Imam Ali dikenal memiliki ketinggian makam spiritual, kecerdasan dan kesatriaan. Dari empat Khulaaur Rasyidin, hanya Ali yang menyandang status Imam di depan namanya. Dari seluruh sahabat, Imam Ali satu-satunya yang mendapat gelar Karramallahu wajhahu.
Bagi generasi setelahnya yang mengembangkan mazhab dan pemikiran, Imam Ali pun selalu menjadi tokoh sentralnya, baik Sunni, Syiah dan Tasawuf, semua dipertemukan oleh Imam Ali menuju cahaya Nabi Muhammad Saw. Kebanyakan silsilah disiplin ilmu kaum Muslimin di antaranya teologi, fikih, tafsir, sastra, tarekat berujung padanya.
Dalam bidang kelimuan, Imam Ali diketahui sudah sering menjadi rujukan khalifah sebelumnya dalam berbagai persoalan, mulai persoalan agama, sosial, bahkan urusan matematika. Tak heran, Klaifah Umar bin Khattab yang dikenal karena ketegasannya selalu berkata, “Kalau tak ada Ali, celakalah Umar.”
Suatu hari, Umar bertanya kepada Ali bin Abi Thalib. “Aku heran kepadamu wahai Ali! Karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’, dan malah menjawabnya langsung bahkan tanpa berpikir sejenak pun.”
Lalu Ali bin Abi Thalib as menunjukan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab seraya berkata, “Wahai Umar, berapakah ini?” Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab, “Lima!” Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketahuilah wahai umar! Sesungguhnya bagiku, semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi.” Secara fisik, Imam Ali digambarkan memiliki tenaga yang sangat kuat. Sejauh yang disejarahkan, sampai menemui syahidnya, tak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya dalam pertarungan
Ali adalah seorang dengan perawakan sedang namun badannya berisi. Matanya hitam dan lebar. Pandangan matanya memancarkan keteduhan. Alis matanya tebal dan menyatu. Wajahnya tampan dan auranya lebih sering memancarkan keceriaan dan kebahagiaan. Jarang rambut tumbuh di bagian depan wajahnya (yang menunjukkan kejeniusan dan keutamaan bagi orang-orang Arab).
Lehernya memancarkan cahaya berwarna putih bagai sebuah guci perak. Jenggotnya tebal, bahunya lebar, jari-jemarinya ramping dan tangannya kekar dan kokoh. Begitu kokohnya sehingga apabila ia memegang tangan seseorang, ia akan menang dan lawan yang dihadapinya akan kehilangan nafasnya.
Perutnya dan punggungnya kokoh. Dadanya bidang dan berbulu. Tulang-tulang sendinya yang bertautan antara yang satu dengan yang lainnya berukuran besar. Otot-ototnya nampak dan betisnya panjang. Otot lengan dan kakinya seimbang dan ketika berjalan agak condong ke depan.
Ibnu Qutaibah mencatat, “Tidak ada yang melawannya kecuali akan tersungkur ke bumi.” Ibn al-Hadid berkata, “Kemampuan fisik Imam Ali As telah menjadi perlambang ksatria. Dia lah yang menaklukkan benteng Khaibar, saat sekelompok orang lain ingin mengangkat gerbangnya gagal. Ia juga yang menurunkan berhala hubal, berhala yang berukuran raksasa dari atas Ka’bah dan menghempaskannya ke tanah.
Ia yang memindahkan batu raksasa dari tempat duduknya dengan tangannya pada hari kekhlalifahannya kemudian dari bawah batu itu mengalir air yang mendidih, sementara semua pasukan yang ada tidak mampu untuk melakukan hal itu.
Imam Ali dikenal memiliki ketinggian makam spiritual, kecerdasan dan kesatriaan. Dari empat Khulaaur Rasyidin, hanya Ali yang menyandang status Imam di depan namanya. Dari seluruh sahabat, Imam Ali satu-satunya yang mendapat gelar Karramallahu wajhahu.
Bagi generasi setelahnya yang mengembangkan mazhab dan pemikiran, Imam Ali pun selalu menjadi tokoh sentralnya, baik Sunni, Syiah dan Tasawuf, semua dipertemukan oleh Imam Ali menuju cahaya Nabi Muhammad Saw. Kebanyakan silsilah disiplin ilmu kaum Muslimin di antaranya teologi, fikih, tafsir, sastra, tarekat berujung padanya.
Dalam bidang kelimuan, Imam Ali diketahui sudah sering menjadi rujukan khalifah sebelumnya dalam berbagai persoalan, mulai persoalan agama, sosial, bahkan urusan matematika. Tak heran, Klaifah Umar bin Khattab yang dikenal karena ketegasannya selalu berkata, “Kalau tak ada Ali, celakalah Umar.”
Suatu hari, Umar bertanya kepada Ali bin Abi Thalib. “Aku heran kepadamu wahai Ali! Karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’, dan malah menjawabnya langsung bahkan tanpa berpikir sejenak pun.”
Lalu Ali bin Abi Thalib as menunjukan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab seraya berkata, “Wahai Umar, berapakah ini?” Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab, “Lima!” Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketahuilah wahai umar! Sesungguhnya bagiku, semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi.” Secara fisik, Imam Ali digambarkan memiliki tenaga yang sangat kuat. Sejauh yang disejarahkan, sampai menemui syahidnya, tak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya dalam pertarungan
Ali adalah seorang dengan perawakan sedang namun badannya berisi. Matanya hitam dan lebar. Pandangan matanya memancarkan keteduhan. Alis matanya tebal dan menyatu. Wajahnya tampan dan auranya lebih sering memancarkan keceriaan dan kebahagiaan. Jarang rambut tumbuh di bagian depan wajahnya (yang menunjukkan kejeniusan dan keutamaan bagi orang-orang Arab).
Lehernya memancarkan cahaya berwarna putih bagai sebuah guci perak. Jenggotnya tebal, bahunya lebar, jari-jemarinya ramping dan tangannya kekar dan kokoh. Begitu kokohnya sehingga apabila ia memegang tangan seseorang, ia akan menang dan lawan yang dihadapinya akan kehilangan nafasnya.
Perutnya dan punggungnya kokoh. Dadanya bidang dan berbulu. Tulang-tulang sendinya yang bertautan antara yang satu dengan yang lainnya berukuran besar. Otot-ototnya nampak dan betisnya panjang. Otot lengan dan kakinya seimbang dan ketika berjalan agak condong ke depan.
Ibnu Qutaibah mencatat, “Tidak ada yang melawannya kecuali akan tersungkur ke bumi.” Ibn al-Hadid berkata, “Kemampuan fisik Imam Ali As telah menjadi perlambang ksatria. Dia lah yang menaklukkan benteng Khaibar, saat sekelompok orang lain ingin mengangkat gerbangnya gagal. Ia juga yang menurunkan berhala hubal, berhala yang berukuran raksasa dari atas Ka’bah dan menghempaskannya ke tanah.
Ia yang memindahkan batu raksasa dari tempat duduknya dengan tangannya pada hari kekhlalifahannya kemudian dari bawah batu itu mengalir air yang mendidih, sementara semua pasukan yang ada tidak mampu untuk melakukan hal itu.
Imam Ali lahir pada hari Jumat 13 Rajab
pada tahun 30 tahun Gajah di Mekah di dalam Ka’bah. Di usianya yang
keenam, perekonomian Abu Thalib, ayahnya, mengalami kemunduran karena
musim paceklik. Nabi Saw kemudian mengambil dan merawatnya.
“Ketika aku masih kecil, (Nabi Muhammad Saw) meletakkanku di sampingnya dan mendekapku ke dadanya dan ia menidurkanku di pembaringannya, menempelkanku ke badannya. Kadang-kadang Nabi Muhammad Saw mengunyah makanan kemudian kunyahan itu diberikan kepadaku. Beliau tidak pernah mendengar bicara dusta dariku dan juga tidak pernah melihat kesalahan pada tingkah lakuku.”
Istri pertama Imam Ali As adalah Sayidah Fatimah binti Muhammad Saw. Keduanya dikaruniai lima anak yang semuanya dimuliakan karena ketinggian ilmunya. Mereka adalah Imam Hasan, Imam Husain, Sayyidah Zaenab, Sayyidah Ummi Kultsum dan Sayyid Muhsin. Namun Muhsin meninggal dalam kandungan. Setelah Fathimah wafat, Imam Ali diketahui menikah beberapa kali dan dikaruniai lebih 20 anak.
Di masa pemerintahannya, umat Islam sudah terpecah-pecah dikarenakan politik. Imam Ali harus menghadapi banyak perang saudara. Diantaranya Perang Jamal, Perang Shifin, Perang Nahrawan dan Perang Mariqin. Semua perang itu dimenangkan kubu Imam Ali. Namun para sejawaran mencatat bahwa sebelum perang, Imam Ali selalu menawarkan perdamaian, tetapi tidak diindahkan.
Saat mengimami Salat Subuh pada 19 Ramadhan 40 H, di saat posisi rukuk, seorang Khawarij bernama Abdur Rahman Ibnu Muljam yang ikut disafnya melompat dan seketika mengayungkan pedangnya ke kepala Imam Ali. Sahabat yang sudah dirawat Nabi sedari kecil itu pun rubuh. Ibnu Muljam langsung melarikan diri namun kemudian ditangkap dan diqisas (dihukum mati). Dua hari setelah itu, 21 Ramadhan, Imam Ali menemui kesyahidannya.
Putra-putra Imam Ali As: Imam Hasan AS, Imam Husain AS, dan Muhammad bin Hanafiyah dengan disertai oleh Abdullah bin Ja’far menguburkan Imam Ali As pada suatu malam di suatu daerah bernama Gharin (sekarang Najaf) dan menyembunyikan kuburannya. Saat itu, kelompok Khawarij dikhawatirkan akan menemukan makam beliau lalu menghinakannya.
Pada tahun 135 Hijriyah, cicit beliau, seorang ulama besar, Ja’far Sadik bin Musa bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib mengungkapkan keberadaan makamnya di Najaf, Irak. Hingga kini, pusara beliau selalu diziarahi jutaan orang tiap tahunnya. (*)http://bkk.fajar.co.id/
“Ketika aku masih kecil, (Nabi Muhammad Saw) meletakkanku di sampingnya dan mendekapku ke dadanya dan ia menidurkanku di pembaringannya, menempelkanku ke badannya. Kadang-kadang Nabi Muhammad Saw mengunyah makanan kemudian kunyahan itu diberikan kepadaku. Beliau tidak pernah mendengar bicara dusta dariku dan juga tidak pernah melihat kesalahan pada tingkah lakuku.”
Istri pertama Imam Ali As adalah Sayidah Fatimah binti Muhammad Saw. Keduanya dikaruniai lima anak yang semuanya dimuliakan karena ketinggian ilmunya. Mereka adalah Imam Hasan, Imam Husain, Sayyidah Zaenab, Sayyidah Ummi Kultsum dan Sayyid Muhsin. Namun Muhsin meninggal dalam kandungan. Setelah Fathimah wafat, Imam Ali diketahui menikah beberapa kali dan dikaruniai lebih 20 anak.
Di masa pemerintahannya, umat Islam sudah terpecah-pecah dikarenakan politik. Imam Ali harus menghadapi banyak perang saudara. Diantaranya Perang Jamal, Perang Shifin, Perang Nahrawan dan Perang Mariqin. Semua perang itu dimenangkan kubu Imam Ali. Namun para sejawaran mencatat bahwa sebelum perang, Imam Ali selalu menawarkan perdamaian, tetapi tidak diindahkan.
Saat mengimami Salat Subuh pada 19 Ramadhan 40 H, di saat posisi rukuk, seorang Khawarij bernama Abdur Rahman Ibnu Muljam yang ikut disafnya melompat dan seketika mengayungkan pedangnya ke kepala Imam Ali. Sahabat yang sudah dirawat Nabi sedari kecil itu pun rubuh. Ibnu Muljam langsung melarikan diri namun kemudian ditangkap dan diqisas (dihukum mati). Dua hari setelah itu, 21 Ramadhan, Imam Ali menemui kesyahidannya.
Putra-putra Imam Ali As: Imam Hasan AS, Imam Husain AS, dan Muhammad bin Hanafiyah dengan disertai oleh Abdullah bin Ja’far menguburkan Imam Ali As pada suatu malam di suatu daerah bernama Gharin (sekarang Najaf) dan menyembunyikan kuburannya. Saat itu, kelompok Khawarij dikhawatirkan akan menemukan makam beliau lalu menghinakannya.
Pada tahun 135 Hijriyah, cicit beliau, seorang ulama besar, Ja’far Sadik bin Musa bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib mengungkapkan keberadaan makamnya di Najaf, Irak. Hingga kini, pusara beliau selalu diziarahi jutaan orang tiap tahunnya. (*)http://bkk.fajar.co.id/
Unta adalah hewan yang istimewa. Selain susu dan dagingnya yang bermanfaat, unta juga dikisahkan dalam Quran dan berjumpa dengan kaum yang begitu sombong, kaum Tsamud, kaumnya Nabi Shaleh.
Bagi kaum Tsamud, Shaleh adalah tumpuan harapan. Sebelum diutus menjadi Rasul, beliau seakan menjadi sosok yang sempurna: terkenal dan digadang-gadang bakal jadi pemimpin kaum Tsamud. Namun, tatkala beliau mengajak untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala, segalanya pudar.
Seolah-olah ketika Shaleh menyeru kepada mereka untuk menyembah Allah, ada kepentingan-kepentingan mereka yang terganggu, ada lembaga-lembaga mereka yang dirugikan sehingga mereka seperti orang yang menjilat ludah sendiri. Mereka mengangung-agungkan Shaleh sebelum diutus menjadi Rasul dan mendurhakai beliau ketika diutus menjadi Rasul.
Kemudian datanglah seekor unta yang muncul di antara dua bukit yang terbelah, sebagai jawaban atas tantangan kaum Tsamud terhadap kenabian Shaleh. Kedatangan unta ini menjadi tolok ukur keimanan kaum Tsamud terhadap risalah yang dibawa Nabi Shaleh.Unta itu ajaib. Ia tidak dilahirkan, muncul dari balik gunung dan tidak berkelamin jantan ataupun betina. Tetapi, bisa melahirkan anak. Air susunya cukup untuk minum seluruh kaum Tsamud seharian penuh.
Setiap hari sang unta menjadi tumpuan hidup masyarakat Tsamud. Apalagi ketika kekurangan air melanda kaum ini. Susu dari unta digunakan sebagai pengganti air.
“Silakan kau manfaatkan unta itu sebaik-baiknya. Ambil air susunya sesuka kalian. Tapi jangan sampai kalian membunuhnya,” ujar Nabi Shaleh. “Jika kalian membunuhnya, kalian akan mendapatkan azab Allah,” tambahnya.
Orang-orang Tsamud yang beriman mematuhi perintah Nabi Shaleh. Namun berbeda halnya dengan orang yang kafir. Mereka malah penasaran dengan mencari cara agar bisa membunuh sang unta.
Mereka mulai berkumpul untuk menentukan kapan dan siapa yang akan membunuh sang unta. Mereka telah menyiapkan peralatan-peralatan perang untuk menolak azab yang telah dijanjikan Shaleh jika terjadi apa-apa dengan si unta. Mereka menyangka bahwa peralatan-peralatan ‘canggih’ di masa mereka bisa mengalahkan kuasa Allah.
Namun apa daya manusia. Kesombongan tidak menjamin keselamatan mereka. Di waktu yang telah ditentukan, ketika utusan mereka telah berhasil membunuh sang unta, azab itu benar-benar datang. Alat-alat yang mereka banggakan ternyata benar-benar tak mampu menangkal azab yang telah dijanjikan.
“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.” (QS: al-Qamar [54]: 31).
Kesombongan yang dimiliki kaum Tsamud telah menumpulkan hati mereka. Sehingga tidak bisa memandang kemanfaatan yang telah diberikan oleh unta ajaib kepada kaum mereka. Mereka telah merasa hebat melampaui kehebatan Allah, sehingga tidak mengindahkan ancaman yang telah diberikan Nabi Shaleh kepada mereka.
*Disarikan dari buku “Fabel Al-Quran: 16 Kisah Binatang Istimewa yang Diabadikan al-Quran” dan Tafsir Mafatih al-Ghaib karya al-Razy.
“ Argghhhh..“ Rafa mengacak rambutnya dan duduk di kursi. Airin menunduk menangis lagi. “ Kenapa sekarang aku rasa kamu bohong sama aku, apa kamu sudah bosan hidup susah sama aku." Tutur Rafa. Airin kembali melihat Rafa dan mendekati Rafa. “ Kenapa kamu bicara seperti itu, sampai kapan pun aku engga pernah bosan sama kamu. Aku mau menikah sama kamu karna aku cinta." Balas Airin memeluk leher Rafa. Pemuda ini memejamkan mata memang hidup yang Ia jalani hanya sedikit mencukupi Istrinya. Sarapan sederhana menjadi kebiasaan menu setiap pagi, Airin menahan mualnya yang Ia rasakan setiap hari karna takut Rafa curiga.
Rafa memperhatikan Airin merasakan aneh pada Istrinya. Rafa kembali memakan nasi goreng buatan Airin walau merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya. Rafa beranjak berdiri dan mengecup kening Airin. Lagi-lagi Rafa bertanya karna Istrinya yang terlihat sangat pucat. Airin menggeleng berusaha tidak mengungkapkan apa yang di alaminya. “ Aku engga tau, kenapa rasanya aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Ingat Rin, kepercayaan adalah sebuah kekuatan untuk rumah tangga kita. Ya aku tahu kadang aku engga bisa jaga emosiku, tapi semata karna agar kamu bisa ngertiin aku." Tutur Rafa.
Airin mengaguk dan menyentuh tangan Rafael yang menyentuh pipinya. Rafa melangkah keluar dari rumah. Dan Airin mengantarkan sampai luar, lagi-lagi Rafa menoleh Istrinya yang tengah tersenyum memperhatikanya. Hingga Rafa kini mulai melajukan motor matic-nya. Airin kembali menitihkan air mata, entah bingung dengan keputusan yang sudah di ambilnya. Dengan sisa uang miliknya gadis ini mendatangi rumah sakit untuk menemui sahabatnya. Seperti biasa Airin Diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya, Airin berkonsultasi dengan seorang dokter tentang kehamilanya.
Doker pun menghampiri Airin yang duduk di kursi ruanganya. Dokter cantik itu hanya tersenyum dan duduk di hadapan teman yaitu Airin. “ Kamu masih mau nekat lanjutin?"tanya Dokter cantik itu. “ Iya Tan, lagian mungkin ini saatnya aku buat dia bahagia. Rasanya sudah cukup aku bahagia dengan dia selama 1 tahun, dan cuma ini yang bisa aku berikan untuknya. Mungkin dengan cara ini juga supaya dia kembali pada keluarganya." Jelas Airin berderai air mata. “ Kenapa harus kamu yang menanggungnya, bisa cara lain. Apa Rafa tidak akan marah?" tanyanya lagi. “ Dia tidak akan marah, bila kamu tidak cerita sama dia. Aku mohon sama kamu, bantu aku ya." Pinta Airin meraih tangan Tania dengan erat.
Memang berat untuk Tania, apalagi ini bermasalah dengan nyawa. “ Aku masih bingung Rin, kamu adalah sahabatku. Bagaimana bisa aku kehilangan kamu." Balas Tania ikut menangis dengan permintaan temanya. Airin terus saja memaksakan kehendaknya, Airin sangat sayang sama Rafa dan juga sahabatnya yaitu Tania. Airin meminta bantuan kepada Tania, Airin yakin bahwa Tania lah yang terbaik untuk Rafa. Tania hanya menggelengkan kepalanya yang arttinya Tania tidak suka dengan ucapan Airin sekaligus permitaan Airin untuk menjaga Rafa.
.................
http://sinuraipa1.blogspot.co.id/
Kadang, kita tidak tahu kenapa kita masih berharap. Kadang, kita tidak tahu kenapa masih menunggu.
Kadang, kita tidak tahu kenapa tetap tinggal.
Maka,
itulah salah-satu cabang sabar. Ketika kita "tidak tahu" misteri masa
depan, tapi kita tetap melakukannya. Lengkapi dengan keyakinan Allah
selalu punya skenario terbaik, sibukkan diri dengan hal positif fan
bermanfaat, maka semoga bahagia selalu menemani kita
“Semua Akan Indah Pada Waktunya”..!!! Sebuah kalimat yang sering sekali
kita dengar, kalimat yang kesannya romantis dan penuh harapan, atau juga
kalimat untuk menghibur diri yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan
tepat pada waktunya. Tapi nampaknya seorang muslim harus berhenti
menggunakan kalimat tersebut.
Mengapa…??
Karena kalimat tersebut merupakan kutipan ayat bibel, tepatnya Pengkhotbah 3 ayat 11. ”Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
“Bahkan kalimat “indah pada waktunya” menjadi syi’ar agama nashrani yang dinyanyikan dalam berbagai versi lagu rohani.
Ingat sabda Nabi ”sungguh kalian akan mengikuti sunnah- sunnah yang ada pada umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya pula.
“Ketika para Sahabatnya bertanya, ‘wahai Rasululloh, apakah mereka Yahudi dan Nashrani?”.
Beliau menjawab, ’jika bukan mereka, siapa lagi?’”(Muttafaqun’alaih).
Maka dari itu, berhentilah memakai kalimat tersebut.
Jika kita belum mendapatkan sesuatu yang kita inginkan maka lebih baik
katakan “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Haal”
segala puji bagi Allah atas segala sesuatu.
Semoga kaum muslimin berhenti menuturkan dan menyebarkan ucapan “indah pada waktunya “. Semakin sering diulang-ulang, ucapan itu akan semakin melekat kuat di dalam benak.
Tidak ada perkataan yang paling mulia, sarat makna, paling benar, paling layak disebarkan, dan paling layak dilekatkan dalam benak, selain Alqur'an Al-Karim.
Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu’alam.
Mengapa…??
Karena kalimat tersebut merupakan kutipan ayat bibel, tepatnya Pengkhotbah 3 ayat 11. ”Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
“Bahkan kalimat “indah pada waktunya” menjadi syi’ar agama nashrani yang dinyanyikan dalam berbagai versi lagu rohani.
Ingat sabda Nabi ”sungguh kalian akan mengikuti sunnah- sunnah yang ada pada umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya pula.
“Ketika para Sahabatnya bertanya, ‘wahai Rasululloh, apakah mereka Yahudi dan Nashrani?”.
Beliau menjawab, ’jika bukan mereka, siapa lagi?’”(Muttafaqun’alaih).
Maka dari itu, berhentilah memakai kalimat tersebut.
Jika kita belum mendapatkan sesuatu yang kita inginkan maka lebih baik
katakan “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Haal”
segala puji bagi Allah atas segala sesuatu.
Semoga kaum muslimin berhenti menuturkan dan menyebarkan ucapan “indah pada waktunya “. Semakin sering diulang-ulang, ucapan itu akan semakin melekat kuat di dalam benak.
Tidak ada perkataan yang paling mulia, sarat makna, paling benar, paling layak disebarkan, dan paling layak dilekatkan dalam benak, selain Alqur'an Al-Karim.
Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu’alam.
Saat seseorang mengajak pada kebaikan, lantas kamu tersinggung, lantas
hatimu merasa tak nyaman, lantas kamu merasa memang melakukan itu.
Bersyukurlah.
.
Bersyukurlah, karena masih ada bagian dari hatimu yang Allah biarkan agar terketuk.
.
Bersyukurlah, karena Allah masih memberikan kesempatan bagi dirimu untuk berubah.
.
Bersyukurlah, karena masih kesempatan bagi hatimu untuk terbuka.
.
Bersyukurlah, karena hati ini masih mungkin menerima hidayah.
.
Karena,
jika saat diajak pada kebaikan lantas kau tak merasakan apapun sama
sekali, tak merasa risih, tak merasa bersalah, tak merasa memiliki dosa,
merasa orang lain “sok alim” atau “sok agamis”, Bisa jadi, Allah telah
menutup dan mengunci hatimu.
.
.
“Sesungguhnya orang-orang
kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri
peringatan, mereka tidak juga akan beriman.”
“Allah telah mengunci-mati hati dan pendegaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka, siksa yang amat berat”
(Q.S. Al-Baqarah : 6-7)
.
.
Maka, bersyukurlah saat kau tersinggung, karena di hati kecilmu ingin berubah menjadi baik, walau hanya sedikit. 😊😊
.
Tinggal masalah waktu, hidayah datang dan meluluhkan hati yang keras. 👍👍
.
Selamat berubah menjadi lebih baik kawan. 😃
.
Semoga
kita bukanlah bagian dari orang-orang yang dikunci hatinya, dimatikan
pendengarannya, dan ditutup penglihatannya🙏 Aamiin Ya Rabbal Alamin..
"Pada mulanya Hasan dari Bashrah adalah seorang pedagang batu
permata, karena itu ia dijuluki Hasan si pedagang mutiara. Hasan mempunyai
hubungan dagang dengan Bizantium, karena itu ia berkepentingan denga para
Jenderal dan Menteri Kaisar, dalam sebuah peristiwa ketika bepergian
ke Bizantium, hasan mengunjungi Perdana Menteri dan mereka berbincang-bincang
beberapa saat.
“Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat”, si menteri
mengajak Hasan.
“Terserah kepadamu,” jawab Hasan, “Ke mana pun aku menurut.”
Si menteri memerintahkan agar disediakan seekor kuda untuk Hasan.
Si menteri naik ke punggung kudanya, Hasan pun melakukan hal yang serupa,
setelah itu berangkatlah mereka menuju pdang pasir. Sesampainya di tempat
tujuan, Hasan melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium, diikat
dengan tali sutra dan di pancang dengan tiang emas di atas tanah. Hasan berdiri
di jejauhan.
Tak berapa lama kemudian muncul lah sepasukan tentara perkasa
dengan perlengkapan perang yng sempurna. Mereka lalu mengelilingi tenda itu,
neggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi. Setelah itu muncul para filosof
dan cerdik pandai yang hampir empat ratus orang jumlahnya. Mereka mengelilingi
tenda itu, menggumamkan beberpa patah kata kemudian berlalu dari tempat itu.
Datang lagi tigaratus orang-rang tua yang arif bijak sana dan berjanggut putih,
mereka menghampiri dan mengelilingi tenda itu, lalu menggumamkan beberapa patah
kata, kemudian berlalu, Akhirnya datang pula lebih dari dua ratus perawan
cantik masing-masing mengusung nampan penuh dengan emas, perak dan batu
permata, mereka mengelilingi tenda itu dan menggumamkan beberapa patah kata
kemudian pergi meniggalkannya. Hasan mengissahkan betapa ia sangat heran
menyaksikan kejadian-kejadian itu dan bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah
artinya semuanya itu?
“Ketika kami meninggalkan tempat itu”, Hasan meneruskan kisahnya,
“Aku bertanya kepada si perdana menteri, Si perdana menteri menjawab bahwa
dahulu Kaisar mempunyai seorang putera yang tampan, menguasai berbagai cabang
ilmu pengetahuan dan tak terkalahkan di dalam arena kegagah perkasaan. Kaisra
sangat sayang kepada puteranya itu. Tanpa terduga-duga, si pemuda jatuh sakit.
Semua tabib paling ahli sekalipun tidak mampu menyembuhkan penyakitnya.
Akhirnya si pemuda putera mahkota itu meninggal dan dikuburkan di bawah naungan
tenda tersebut. Setiap tahun orang-orang datang berziarah ke kuburannya”.
Sepasukan tentara yang mula-mula mengelilingi tenda tersebut
berkata : “Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini
terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk
menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimmpamu ini datang dari Dia yang tak
sanggup kami perangi dan tak dapat kami tantang”. Stelah berucap seperti itu
merekapun berlalu dari tempat itu.
Kemudian tiba lah giliran para filosof dan cerdik pandai. Mereka
berkata : Malapetaka yag menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak dapat
kami lawan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan tipu muslihat. Karena semua
filosof di atas bumi ini tidak berdaya menghadapi-Nya dan semua cerdik pandai
hanya orang-orang dungu di hadapan-Nya. Jika tidak demikian halnya, kami telah
berusaha dengan mengajukan dalih-dalih yang tak dapat di pantah oleh siapa pun
di alam semesta ini:. Setelah berucap demikian para filosof dan cerdik pandapi
itu pun berlalu dari tempat tersebut.
Selanjutnya orang-orang tua yang mulia tampil seraya berkata :
“Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini dapat
dicegah oleh campur tangan orang-orang tua, niscaya kami telah mencegahnya
dengan do’a do’a kami yang rendah hati ini, dan pastilah kami tidak akan
meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tetapi malapetaka yang
ditimpakan kepadamu datang dari Dia yang sedikit pun tak dapat
dicegah oleh campurtangan manusia-manusia yang lemah”. Setelah kata-kata ini
mereka ucapkan merekapun berlalu.
Kemudian dara-dara cantik dengan nampan-nampan berisi emas dan
batu permata datang menghampiri, mengelilingi tenda itu dan berkata : “Wahai
putera Kaisar, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa ditebus
dengan kekayaan dan kecantikan, niscaya kami merelekan diri dan harta kekayaan
kami yang banyak ini untuk menebusmmu dan tidak kami tinggalkan engkau di
tempat ini. Namun mala petaka ini ditimpakan oleh Dia yang tak dapat
dipengaruhi oleh harta kekayaan dan kecantikan.” Setelah berkata-kata ini
mereka ucapkan, merekapun meninggalkan tempat itu.
Terakhir sekali Kaisar beserta perdana menteri tampil, masuk ke
dalam tenda dan berkata : “Wahai biji mata dan pelita hati ayahanda! Wahai buah
hati ayahanda! Apakah yang dapat dilakukan oleh ayahanda ini? Ayah handa telah
mendatangkan sepasukan tentara yang perkasa, para filosof dan cerdik pandai,
para pawang dan penasehat, dan dara-dara cantik yang jelita, harta benda dan
segala macam barang-barang berharga. Dan ayahanda sendiri pun telah datang.
Jika semua ini ada faedahnya, maka ayahanda pasti melakukan segala sesuatu yang
dapat ayahanda lakukan. Tetapi malapetaka ini telah ditimpakan kepadamu oleh
Dia yang tidak dapat dilawan oleh ayahanda beserta segala aparat, pasukan,
pengawall, harta benda dan barang-barang berharga ini. Semoga engkau
mendapat kesejahteraan, selamat tinggal sampai tahun yang akan datang.”
Kata-kata ini diucapkan sang Kaisar kemudian ia berlalalu dari tempat itu.
Pengisahan si menteri ini sangat menggugah hati Hasan. Ia tidak
dapat melawan dorongan hatinya. Dengan segera ia bersiap-siap untuk kembali ke
negerinya. Sesampainya di kota Bashrah ia bersumpah tidak akan tertawa lagi
di atas dunia ini sebelum mengetahui dengan pasti bagaimana nasib
yang akan dihadapinya nanti. Ia melakukan segalam macam kebaktian dan disiplin
diri yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun pada masa hidupnya.
http://kisahteladan.web.idTranslate
About Me
















