Tampilkan postingan dengan label kisahislami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahislami. Tampilkan semua postingan
"Dokumentasi terhadap situs-situs penting dan aktivitas keagamaan di Arab Saudi, ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup panjang. Terutama, dokumentasi fotografi dua situs utama umat Islam di negara petro dolar tersebut yaitu Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid an-Nabawi di Madinah.
Belakangan, terungkap sejumlah manuskrip langka dari tulisan tangan seorang militer Mesir, yaitu Muhammad Shadiq Beik.
Dalam setidaknya empat karyanya tersebut, para sejarawan menyimpulkan jepretan sosok sersan di kemiliteran Mesir tersebut menggunakan kamera yang sangat langka pada masanya itu.
Hasil bidikan teruta atas Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi. Kesemuanya tertuang dalam empat karyanya yang paling penting berjudul “Misy’al al-Muhmal”. Tebalnya hanya 60 halaman dan terbit pertama kali pada 1867.
Tidak hanya demikian, bahkan gambar-gambar foto yang dia hasilkan merupakan dokumentasi penting terhadap obyek-obyek vital Arab Saudi pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Foto-foto tersebut diambil selama kunjungannya di Arab Saudi pada 1860 dan 1880. Dia juga menggambarkan sketsa peta dengan tulisan tangan dan catatan penting sebagai pedoman yang memudahkan para haji, ketika itu. Ini antara lain meliputi nama-nama terminal, desa, nama jalan, hingga gang-gang di perkotaan.
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/17/06/20/orum2t320-ini-fotografer-dan-foto-tertua-untuk-masjid-alharam
"Adalah ibunda Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan setia Rasulullah shalallahu
‘alaihi wassalam. Ia seorang wanita Anshar yang masuk Islam dalam urutan
awal. Saat menyatakan diri masuk Islam, ia sudah memiliki suami dan
anak. Suaminya bernama Malik bin Nadhar dan putranya bermana Anas bin
Malik.
Wanita itu bernama Ghumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin
Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin
Naja al-Anshaiyah al-Khazrajiyah radhiyallahu ‘anha. Saat muda, ia
menjadi gadis idaman para pemuda. Pribadinya yang anggun, cantik,
cerdas, sopan, dan keibuan, memancarkan pesona alami yang tak bisa
ditutupi. Pemuda-pemuda Yatsrib mengincarnya, namun kemudian anak
pamannya yang bernama Malik bin Nadhar-lah yang ditaqdirkan berhasil
mendapatkannya.
Kala dakwah Islam meluas dan menyentuh penduduk
Yatsrib, Ghumaisha’ yang lebih dikenal dengan Ummu Sulaim, mendapatkan
hidayah untuk meninggalkan paganisme dan melakukan konnversi agama,
masuk Islam. Sementara itu suaminya masih tetap pada agama nenek moyang.
Iman yang sudah menghunjam di lubuk hati membuatnya tak peduli dengan
kemungkinan pahit yang akan terjadi.
Suatu ketika, sekembalinya dari bepergian, Malik bin Nadhar tahu kalau istrinya telah masuk Islam. Marah besarlah ia.
“Apakah engkau murtad dari agamamu?!” tanya Malik geram.
“Tidak, bahkan aku telah beriman,” jawab Ummu Sulaim retoris berhikmah.
Singkat kisah, keduanya tak bisa lagi satu hati. Mereka berpisah.
Janda
Malik bin Nadhar, sosok memikat hati itu kini didekati seorang pria
bernama Abu Thalhah. Harta benda dan kedudukan yang terpandang menjadi
senjata ampuhnya untuk meluluhkan hati wanita Mukminah ini. Namun
sungguh agung pribadi ibunda Anas bin Malik. Pundi-pundi profanistis tak
mampu menaklukkan hatinya sama sekali. Ia bisa saja menerima Abu
Thalhah sebagai suami, tapi tentu ada syaratnya. Ia katakan kepada pria
itu bahwa dirinya adalah seorang muslimah, dan seorang muslimah tak
selayaknya bersuamikan seorang musyrik. Kemungkinan Abu Thalhah bisa
memeristri dirinya hanya ada ketika lelaki itu bersedia beralih agama.
Mendengar
penjelasan Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, terjadilah pergolakan batin
pada diri Abu Thalhah. Entah bagaimana gambaran yang terjadi di hatinya,
tiba saja pria itu bersuara, “Aku berada di atas apa yang kamu yakini.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq kecuali Allah dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Diucapkannya kalimat itu
berulang kali.
Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhu merasa bersyukur.
Ia tatap wajah putranya dan memintanya agar menikahkan dirinya dengan
Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu.
“Wahai Anas, nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah.”
Mereka
pun menikah. Mahar untuk wanita shalihah bernama Ummu Sulaim ini
sangatlah besar hingga tak dapat dicatat dengan angka. Ia bukan materi
yang bersifat profanistis, ia sesuatu yang tak kasat mata dan sangat
sakral. Adalah keislaman mempelai pria, iman yang ada di jiwa Abu
Thalhah yang hadir baru saja.
Ummu Sulaim dan Abu Thahah, bersama
Anas bin Malik, hidup rukun bahagia. Keluarganya dibina dengan
nilai-nilai Islam sehingga terciptalah harmoni rumah tangga yang indah.
Ummu Sulaim yang lebih dulu mengerti ilmu keislaman tak segan menularkan
kefahamannya kepada suami tercinta. Demikian pun Abu Thalhah, ia
menyambutnya dengan tekun mendalami Islam, tanpa rasa segan dan sungkan.
Kekuatan
ruhiyah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu kian hari kian mantab. Hingga
terbuktilah pada suatu hari dengan sebuah tindakan besarnya.
“Sesungguhnya
Allah telah berfiman di dalam kitabnya, ‘Kamu sekali-kali tidak sampai
kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian
harta yang kamu cintai.’ Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai
adalah kebunku. Untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan
mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah
sesukamu wahai Rasulullah,” ucap Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu di
hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
“Bagus… bagus…
itulah harta yang menguntungkan, itulah harta yang menguntungkan. Aku
telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau
menyedekahkannya kepada kerabat-kerabatmu,” respon beliau. Dan benar,
Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu menunaikannya. Dibagikannya kebun itu
kepada kerabatnya.
Dari pernikahan Abu Thalhah dengan Ummu Sulaim
radhiyallahu ‘anhuma, Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniai seorang
putra yang diberi mana Abu Umair. Bayi ini tumbuh menjadi anak yang lucu
dan cerdas, menyenangkan kedua orang tuanya. Tapi suatu ketika ia
sakit. Karena sangat sayangnya, setiap pulang dari pasar, hal yang
pertama kali Abu Thalhah tanyakan ke istrinya adalah keadaan si mungil
Abu Umair.
Ternyata sakit Abu Umair tak berlanjut pada
kesembuhan, anak manis itu meninggal dunia. Saat itu Abu Thalhah
radhiyallahu ‘anhu sedang tidak di rumah. Ummu Sulaim berusaha keras
menenangkan hatinya dan mengurus sendiri jenazah putranya tanpa sang
suami di sisinya. Ia berpesan kepada orang-orang agar tidak mengabarkan
berita duka ini kepadanya. Yang ada di fikiran wanita ini adalah
bagaimana agar ketika tiba di rumah dalam keadaan letih, suaminya tidak
langsung terpukul dengan kesedihan yang dalam oleh kematian anak yang
sangat disayanginya. Ia berfikir keras bagaimana menyampaikan peristiwa
menyedihkan ini kepada suaminya dengan secerdas dan bijaksana mungkin.
Malam
itu, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha berusaha sekuat tenaga untuk
membuat suaminya bahagia. Ia siapkan masakan istimewa untuknya.
Abu Thalhah tiba. Seperti biasa ia bertanya, “Bagaimana keadaan anakku?” Sang istri menjawab, “Ia tenang sekali…”
Abu
Thalhah lega, terfikir olehnya bahwa Abu Umair sudah lebih baik
keadaannya. Ia tak ingin mengganggu anak kecil yang dikiranya sedang
tidur pulas itu. Ummu Sulim melayani keperluan suaminya dengan penuh
kehangatan. Disajikannya menu makan malam yang sudah ia siapkan.
Sementara
Abu Thalhah menikmati hidangan istrinya, Ummu Sulaim berdandan lebih
cantik dari biasanya. Dikenakannya pakaian terindah yang ia miliki.
Terjadilah di malam itu hubungan suami-istri yang hangat sekali.
Usai
bercinta dan dilihatnya Abu Thalhah dalam kondisi sangat rileks, Ummu
Sulaim radhiyallahu ‘anha mulai bicara dengan retorika yang sangat
anggun penuh hikmah.
“Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu
seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada sebuah keluarga,
dan suatu ketika mereka mengambil kembali barang itu. Bolehkah keluarga
tersebut menahannya?”
Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak.”
Ummu
Sulaim bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika keluarga itu keberatan
dengan diambilnya barang titipan itu setelah mereka sudah bisa
memanfaatkannya?”
Abu Thalhah berpendapat, “Berarti keluarga itu tidak adil.”
“Sesungguhnya
anakmu adalah titipan dari Allah, dan Dia telah mengambilnya kembali.
Maka tabahkanlah hatimu…” pungkas Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha dengan
perasaan yang sulit dilukiskan.
Blaarrr!!! Seketika ekspresi Abu Thalhah berubah. Ia sangat sedih dan berat rasanya menahan amarah.
“Kamu biarkan aku dalam keadaan seperti ini dulu baru kamu katakan keadaan anakku yang sebenarnya?!”
Diulang-ulangnya
pertanyaan itu sampai akhirnya keluar ucapan istirja’ (inna lillahi wa
inna ilaihi raji’un) yang dilanjutkannya dengan memuji Allah subhanahu
wa ta’ala. Perlahan menjadi tenanglah hatinya.
Esok harinya Abu
Thalhah radhiyallahu ‘anhu pergi menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wassalam dan mengadukan kejadian semalam. Beliau pun menanggapinya
dengan tenang dan menenangkan.
“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”
Allah
ta’ala mengijabah doa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Dari
hubungan di malam itu, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha mengandung seorang
anak lelaki. Tak lama setelah si jabang bayi dilahirkan, wanita tegar
ini mengutus putra pertamanya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
membawa adiknya menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam,” kata Anas.
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam lantas mengunyah kurma dan mentahnik
(mengoleskan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut) bayi itu.
Lalu Anas meminta beliau memberinya nama. Dan beliau menamainya
Abdullah.
Abdullah tumbuh hingga dewasa dan memiliki tujuh anak
shalih (ada yang mengatakan sepuluh) yang semuanya hafal al-Qur’an.
Sungguh, sebuah keberkahan dari sikap sabar atas ujian musibah yang
Allah subhanahu wa ta’ala hadapkan. Wallahu a’lam. [IB]
1- Mudah meninggalkan shalat, seperti shalat Shubuh karena sehabis sahur langsung tidur.
2- Laki-laki masih malas shalat berjamaah di masjid.
3-
Perempuan enggan berjilbab bahkan terus-terusan memakai pakaian seksi
dan ketat saat puasa. Padahal mengumbar aurat itu dosa besar, menjadikan
puasa sia-sia. Bagi kita diharapkan mengingatkan wanita terdekat kita
(istri dan puteri kita) untuk berjilbab dan menutupi aurat, moga Allah
memberi hidayah.
4- Muda-mudi jalan berdua dengan kekasihnya
(pacarnya) hingga ngabuburit menunggu buka dengan pacar. Pacaran itu
jalan menuju zina atau zina kecil-kecilan.
5- Membicaran jelek
orang lain (ghibah) walau itu nyata ada pada orang lain, hingga suka
memfitnah (menuduh jelek orang lain tanpa bukti).
6- Mementingkan
buka puasa bersama dengan teman atau rekan kerja dibandingkan shalat
Maghrib, bahkan shalat sampai ditinggalkan. Ingat, meninggalkan satu
shalat saja, itu akan menghapus amal.
Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari, no. 594).
Di antara maksud hadits sebagaimana kata Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash-Shalah adalah akan menghapus amalan pada hari tersebut.
Dan
ingat, yang namanya maksiat akan menghancurkan pahala orang yang
berpuasa walau secara hukum puasa tetap sah selama yang dilakukan bukan
pembatal puasa.
Semoga Allah beri hidayah pada kita semua
untuk meninggalkan maksiat di bulan Ramadhan, bahkan seterusnya maksiat
ditinggalkan dan kita menjadi lebih baik ke depannya.
10 ramadhan adalah hari meninggalnya Sayidah Khadijah,
ummul mukminin. sejarah Rasul dengan Khadijah bukan sejarah romantisme seperti kisah dengan Aisyah. Kisah Khadijah adalah pengorbanan tak kenal batas demi tegaknya agama islam,
Khadijah wanita bangsawan itu melepaskan harta dan segala kemuliaan dunia demi perjuangan nabi
dan meninggal dengan kain yang penuh tambalan kulit kayu tanpa menyisakan kain kafan yang pantas. Hingga Rosul wafat, beliau menempatkan sang istri ditempat terhormat,
Aisyah tidak dapat menggantikan posisi Khadijah di dalam hati Rosul. Begitu besar kehilangan Rosul atas Khadijah “hingga” untuk menghiburnya Allah memberi hadiah perjalanan Isra Mi'raj.
Mengenang Khadijah adalah menyelami bagaimana islam tumbuh dalam pertentangan yang keras, Khadijah tak sempat melihat bagaimana islam yang dia perjuangkan dengan mengorbankan semua hartanya tumbuh dan menguasai makkah dan madinah. Sebagai istri dialah perempuan pertama, manusia pertama yang masuk islam,
perempuan yang menyelimuti Rosul saat mengigil dari gua hira. Perempuan tangguh yang percaya pada kenabian suaminya saat seluruh dunia menganggapnya orang gila dan penyamun.
"Para Malaikat menyeretnya melewati orang banyak, menuju ke arah api neraka yang menyambar-nyambar.
Dia menjerit sekuat tenaga dan bertanya-tanya barangkali ada orang yang mampu membantunya.
Dia
menjerit lagi sambil menyebutkan semua kebaikan yang telah dia lakukan;
bagaimana dia sering membantu orangtuanya. Bagaimana dia tidak pernah
tertinggal puasanya, tidak pernah meninggalkan shalatnya, selalu
bersedekah dan rajin membaca al-Quran.
Dia terus menjerit lagi, namun tidak ada seorangpun yang tampil membantunya.
Para malaikat terus menyeret dia. Dan ... mereka semakin dekat dengan kawah api neraka.
Dia menoleh ke belakang dan ini harapannya yang terakhir. Dia teringat ...
Tidak! Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Bagaimana
bersihnya seseorang yang mandi di sungai lima kali sehari dari kotoran,
begitu juga bersihnya orang yang melaksanakan shalat lima kali sehari
dari dosa-dosa mereka"
Dia menjerit lagi sekuat tenaga:
"Solat saya? Solat saya? Doa saya?"
Kedua
malaikat tidak berhenti, dan terus menyeretnya ke tepi jurang neraka.
Kembang api neraka yang membubung terasa menyambar mukanya.
Dia
menoleh ke belakang lagi, tapi matanya telah kering dari setiap harapan
dan dia tidak memiliki apa-apa lagi yang tinggal di dalam dirinya.
Salah satu malaikat menolak dia dan memasukan ke kawah neraka.
Dia mandapati dirinya terus melayang dan akhirnya jatuh ke dalam kawah api neraka yang menjulang tinggi selama 70 tahun.
Setelah 70 tahun sengsara dibakar api, tiba-tiba terasa tangannya diraih oleh satu lengan.
Dia ditarik kembali ke atas.
Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang sangat tua dengan jenggot putih yang panjang memegang tangannya.
Pria itu kelihatannya sangat daif.
Sambil menyapu debu di tubuhnya dia bertanya pada pria tua itu:
"Siapakah anda?"
Orang tua itu menjawab: "Akulah sholat anda"
"Mengapa
kamu begitu terlambat bantu saya? Wahai shalatku, saya telah terjerumus
ke dalam api neraka selama 70 tahun! Kenapa setelah tubuh saya hangus
dan hampir hancur baru kamu datang selamatkan saya ? kenapa ...?."
Orang tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata:
"Apakah kau lupa? Selama hidup di dunia dulu kamu selalu laksanakan saya pada saat-saat akhir !!"
"Setiap kali Maghrib kamu fokus pada sinetron tv dulu ..
"Dzuhur kamu lewat, kamu lebih mementingkan kerja daripada saya. Sholat ashar dan subuh juga selalu diujung waktu.
"Kamu ingatkah itu semua ??"
Penjelasan pria tua itu mengejutkannya dari tidur ...
Dia terjaga dan mengangkat kepalanya dari tidur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat ketakutan ...
Ketika itu juga ia mendengar suara adzan dikumandangkan menandai masuknya waktu shalat subuh.
Dia
bangun dengan cepat dan mengambil wudhu. Dia berjanji tidak akan
melalaikan shalat lagi. Dia menyadari kesalahannya sekarang. Dia telah
mendapat petunjuk yang maha benar.
🌙Sebarkan kisah ini kepada
keluarga dan kawan-kawan anda. Mungkin anda dapat membantu mereka agar
mulai sekarang mau menunaikan sholat tepat waktu.
(Petikan dari ceramah Ustaz Faqih Razak di Masjid Tanjung Piandang, Malaysia)
"Setiap nabi mendapatkan tugas untuk berdakwah. Mereka menyerukan kepada umatnya agar menyembah Allah.
Di zaman Nabi Nuh, banyak kaumnya yang menyembah berhala. Nabi Nuh
sudah berusaha mati- matian mengingatkan kaumnya agar kembali pada
Allah. Ratusan tahun Nabi Nuh berdakwah. Hanya 80 orang yang mengikuti
seruan dakwah Nabi Nuh.
Tak bosan-bosan Nabi Nuh mengingatkan
tapi sayang, kaum Nabi Nuh tak mau mendengarkan. Mereka justru menghina
Na bi Nuh. Nabi Nuh sudah mengingatkan agar mereka meninggalkan berhala.
Kalau tidak, akan ada banjir besar yang melanda mereka sebagai hukuman
dari Allah. “Nuh kan manusia biasa, sama seperti kami. Mana mungkin dia
bisa mengetahui sesuatu sebelum terjadi,” ejek kaum Nabi Nuh. Mereka
tidak memercayai petunjuk Nabi Nuh.
Nabi Nuh tetap mengajak
kaumnya untuk bertaubat. Petunjuk Allah tidak bisa dipaksakan. Anak Nabi
Nuh yang bernama Qan’an juga tidak patuh. Nabi Nuh sedih, tapi ia tetap
tidak menyerah. Bersama 80 pengikutnya, Nabi Nuh membuat kapal.
Berdasarkan petunjuk Allah, semua yang berada di kapal itu bisa selamat
dari banjir besar.
Rupanya, masih banyak yang menghina Nabi
Nuh ketika ia membuat kapal. “Sudahlah, tak usah banyak bicara. Buktikan
saja kapan banjir besar itu datang,” kata mereka.
Nabi Nuh
bersabar. Ia mengatakan, hanya Allah yang mengetahui kapan banjir itu
akan tiba. Kaum Nabi Nuh tidak percaya banjir besar akan datang karena
laut begitu jauh dari kehidupan mereka. Walaupun sudah dijelaskan
berulang-ulang, mereka masih saja ingkar.
Suatu hari, saat
Nabi Nuh dan beberapa kaumnya yang taat sudah selesai membuat kapal,
petunjuk Allah datang lagi. Dalam Alquran surah Hud ayat 40, Allah
menyuruh Nabi Nuh naik ke kapal.
Semua pengikutnya yang taat
beserta hewan-hewan yang mau mendengarkan petunjuk Nabi Nuh naik ke
kapal. Mereka membawa per bekalan. Hewan-hewan berkumpul.
Seketika, turunlah hujan lebat. Negeri Nabi Nuh terkena banjir besar.
Orang-orang yang ingkar hanyut bersama banjir, termasuk putra Nabi Nuh.
Dari jauh, tampak Qan’an berusaha menyelamatkan diri ketika banjir
mulai datang. Nabi Nuh masih mengajak anaknya agar mau naik ke kapal.
Sayang sekali, Qan’an bersikap sombong. Ia tak mau naik ke kapal. Ia
memilih berenang dan naik ke gunung. Walaupun putra nabi, Qan’an yang
ingkar kepada Allah ikut meninggal terseret banjir.
Keesokan
paginya, langit cerah. Hujan berhenti. Air telah surut. Saat itu, kapal
Nabi Nuh sudah sampai di wilayah Armenia. Nabi Nuh beserta kaumnya
mengucapkan syukur kepada Allah. Mereka memulai kehidupan baru dalam
naungan rahmat Allah.
: Unta Nabi saleh
http://khazanah.republika.co.id/Umat Islam tidak mau ditindas. Saya tidak mau ngelonin kebatilan. (Rakyat) Betawi, rempuglah!" (KH Mohammad Mansur)
Situasi Jakarta masih genting saat itu. Pusat negara dan pemerintahan
telah dipindahkan ke Yogyakarta sejak 1946 lantaran ibukota diduduki
oleh pasukan NICA atau Belanda yang ingin berkuasa lagi kendati bangsa
Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945.
Namun,
tidak semua pejuang dan meninggalkan Jakarta. Masih ada sejumlah tokoh
berpengaruh yang bertahan, termasuk demi harga diri dan martabat
masyarakat Betawi meskipun setiap saat harus menghadapi risiko tinggi.
Salah satunya adalah KH Mohammad Mansur atau yang lebih masyhur dengan
nama Guru Mansur.
Demi Betawi dan Umat Islam
Guru Mansur tak sekadar bertahan melainkan terus melancarkan upaya sebagai wujud perlawanannya terhadap kaum penindas. Suatu ketika pada 1948, misalnya, ia dengan memasang dan menaikkan bendera Merah-Putih di menara masjid tempatnya bermukim, Masjid Jami Al-Mansur di Kampung Sawah. Hal ini tentu saja membuat Belanda marah.Tak pelak, Guru Mansur harus berurusan dengan aparat kepolisian atas perbuatan nekadnya tersebut. Sang ulama tetap bergeming, tidak mau menurunkan bendera kebesaran Indonesia itu dari ujung tiangnya walaupun di bawah ancaman senjata hingga akhirnya ditahan (Alwi Shahab, Batavia Kota Banjir, 2009:153).
Kendati sempat menahan Guru Mansur, Belanda sebenarnya harus berpikir panjang sebelum mengambil tindakan yang lebih tegas terhadapnya. Apabila itu dilakukan, bukan mustahil akan memicu perlawanan besar dari masyarakat Betawi dan umat Islam.
Maka, Belanda mencoba segala cara untuk membujuk Guru Mansur agar bersikap kooperatif dan bersedia bekerjasama. Tak main-main, Belanda menawarkan imbalan segepok uang (Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi: Asal-Muasal, Kebudayaan, dan Adat-Istiadatnya, 1997:205).
Lantas, bagaimana reaksi sang guru atas tawaran menggiurkan itu? “Umat Islam tidak mau ditindas. Saya tidak mau ngelonin kebatilan!” tolaknya dengan tegas.
Belanda gigit jari. Sekali lagi, terlalu besar risikonya jika bertindak macam-macam terhadap tokoh bernyali tinggi yang satu ini. Bisa saja terjadi revolusi di Jakarta jika panutan rakyat ditindak secara berlebihan, dan Belanda tentu saja tidak menghendaki munculnya perlawanan yang lebih besar.
Menentang Belanda Sejak dalam Pikiran
Guru Mansur adalah sosok ulama berpengaruh yang berdiri mantap di belakang panji-panji republik. Menjelang kemerdekaan Indonesia, ia menaikkan bendera Merah-Putih, lalu menganjurkan kepada masyarakat Betawi dan umat Islam untuk melakukan hal serupa.Persatuan umat demi menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia menjadi salah satu fokus utama Guru Mansur saat itu. Ia terkenal dengan slogan atau seruannya yang melegenda: rempug! (Saidi, 1997:205)
Rempug merupakan kata dalam bahasa Betawi yang bermakna “kompak”, “berkumpul”, atau “bersatu”. Untuk mengobarkan semangat umat Islam, bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Betawi yang memang menjadi basis utama pendukung perjuangannya, Guru Mansur kerap berseru: “Betawi, rempuglah!”, artinya, “(Rakyat) Betawi, bersatulah!”Tak hanya di era kemerdekaan saja Guru Mansur menentang Belanda. Jauh sebelumnya, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda masih berkuasa penuh di Indonesia, berkali-kali Guru Mansur melakukan tindakan yang tidak berkenan bagi kaum penjajah.
Kala itu tahun 1925, pemerintah kolonial di Batavia bermaksud membongkar Masjid Cikini. Rencana itu tentu saja mendapat reaksi keras dari umat Islam. Guru Mansur menjadi motor perjuangan untuk menggagalkan pembongkaran masjid tersebut.
Gerakan protes yang digalang Guru Mansur ternyata manjur. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek, rencana dibongkarnya Masjid Cikini oleh pemerintah kolonial Belanda itu pun akhirnya urung dilakukan (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, 2005:249).
Pada periode waktu yang sama atau masa yang disebut sebagai era pergerakan nasional, Guru Mansur juga gencar mendesak pemerintah kolonal agar hari Jumat ditetapkan sebagai hari libur bagi umat Islam.
Tokoh Islam-Betawi Berdarah Mataram
Tanggal 31 Desember 1878, Mohammad Mansur dilahirkan di tanah Betawi, tepatnya di Kampung Sawah (Sawah Lio) atau yang kini termasuk wilayah administratif Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
Mohammad Mansur ternyata masih punya pertalian darah dengan
wangsa Mataram atau Kesultanan Mataram Islam yang tahun 1628 dan 1629
pernah menyerang VOC/Belanda ke Batavia pada masa pemerintahan Sultan
Agung Hanyokrokusumo (1593-1645).
Hubungan darah antara Guru
Mansur dengan keluarga besar Mataram bisa dirunut dari Raden Abdul
Mihit, pendiri Masjid Jami Al-Mansur di Kampung Sawah yang dibangun pada
1717. Raden Abdul Mihit adalah putra Pangeran Cakrajaya (Tjakrajaya)
Nitikusuma IV atau yang dikenal juga dengan nama Pangeran Cakrajaya
Adiningrat.
Menurut Alwi Shihab dalam buku Betawi: Queen of the East (2004:107),
Pangeran Cakrajaya masih terjalin ikatan kekeluargaan dengan seorang
Tumenggung Mataram yang ke Batavia untuk terus berusaha melakukan
perlawanan terhadap penjajah meskipun jarang menemui keberhasilan.
Raden
Abdul Mihit, merasa perlawanan secara fisik tidak cukup efektif karena
Belanda memiliki pasukan dan persenjataan yang lebih banyak dan lengkap.
Maka itu, ia mencari jalan lain, yakni dengan mendirikan masjid dan
menyampaikan ceramah yang menggelorakan semangat umat Islam untuk
menentang penjajahan (Shihab, 2004:107).
Nah, ayahanda Mohammad
Mansur, yakni Imam Abdul Hamid, adalah cicit Raden Abdul Mihit yang
tidak lain merupakan putra Pangeran Cakrajaya dari Mataram itu. Mansur
melanjutkan perjuangan leluhurnya dengan bergerak melawan Belanda
melalui dakwah yang berpusat di Masjid Jami Al-Mansur Kampung Sawah.
Pergaulan Luas Sang Ulama Besar
Selaras dengan garis takdir keluarganya, Guru Mansur juga bukan ulama sembarangan. Sejak usia 16 tahun, ia sudah menunaikan ibadah haji ke Mekah. Di tanah suci, Mansur juga berguru kepada para ulama besar, termasuk Syaikh Mukhtar Atharid Al-Bogori, Syaikh Umar Bajunaid Al Hadrami, Syaikh Ali Al-Maliki, Syaikh Said Al Yamani, dan Syaikh Umar Sumbawa.Mansur memperdalam ajaran Islam di Arab selama 4 tahun. Kemudian pulang ke tanah air dan sempat singgah di Aden/Yaman, Benggala/Bangladesh, Kalkuta/India, Burma/Myanmar, Malaya/Malaysia, juga Singapura.
Di tanah air, Mansur membantu ayahnya berdakwah. Di lingkungan keluarga besarnya, Mansur dikelilingi oleh para ulama besar seperti Syaikh Jumnaid Al- Batawi, KH Mahbub bin Abdul Hamid, KH Thabrani bin Abdul Mugni, H. Mujtaba bin Ahmad, dan lainnya.
Dari sinilah, Mansur menjalin relasi dan berhubungan baik dengan tokoh-tokoh Islam nasional ternama termasuk Syekh Ahmad Syurkati, juga KH Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy'ari, Muhammad Natsir, KH. Mas Mansur, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, dan masih banyak lagi.
Mansur pernah aktif di Nahdlatul Ulama (NU), organisasi massa-Islam terbesar di Indonesia. Ia sempat menjadi Rais Syuriah NU di Batavia dan mengikuti Muktamar NU ke-3 di Surabaya pada 1928, kemudian mendirikan madrasah NU pada 1930. Tahun 1951, nama madrasah itu diganti menjadi Chairiyah Mansuriyah dan masih eksis hingga kini.
Tanggal 12 Mei 1967 atau setengah abad silam, Guru Mansur wafat dalam usia 88 tahun. Ulama besar panutan umat Islam dan masyarakat Betawi sekaligus pejuang yang gigih membela republik ini adalah kakek buyut dari salah satu ustadz kekinian terpopuler di Indonesia, Yusuf Mansur.
(tirto.id - isw/nqm)
"Bilal bin Rabah adalah seorang budak yang kuat, amanah, tidak pernah mengeluh. Ia menjadi rebutan di kalangan majikan di Mekah. Ia juga dicintai oleh para tuan dan rekannya sesama budak. Pada masa itu merupakan sebuah hal yang wajar para majikan menyiksa budaknya. Para budak diperlakukan secara zalim dan tidak bisa berbuat apa-apa sekali pun ditumpahkan darahnya.
Bilal menyaksikan kezaliman tersebut dengan hati gundah. Ia melihat kondisi Mekah yang sangat tidak sesuai dengan hati kecilnya. Sudah sejak lama Bilal mempertanyakan apa gunanya menyembah berhala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah Mekah pada masa itu. hingga suatu hari ia mendengar kabar tentang Nabi Muhammad SAW. Bilal pun datang ke Darul Arqam untuk mengikuti kajian yang diisi oleh Nabi SAW.
Pada waktu itu Bilal mendengar Nabi menjelaskan tidak bolehnya menyembah berhala, tidak boleh membunuh sembarang orang, tidak boleh berzina, tidak boleh menyiksa budak. Mendengar hal itu, Bilal merasa apa yang disampaikan Nabi sangat sesuai dengan apa yang ia rasakan selama ini. Ia pun memutuskan untuk masuk Islam.
Umayyah bin Khalaf, majikan Bilal, sangat marah mendengar budaknya telah memeluk Islam. Sang majikan pun mulai menyiksa Bilal. Ia bahkan mengajak tuan lainnya untuk turut menyiksa Bilal. Bilal tidak gentar dengan siksaan yang datang bertubi-tubi. Ia tetap teguh pada Islam dan sabar menjalani siksaan. Selama penyiksaan Bilal kerap mengucap kata yang begitu dibenci oleh kaum Quraisy, “Ahad”.
Mereka mengikat kaki dan tangan Bilal dengan rantai, kemudian menariknya dengan kuat di padang pasir yang panas. Bilal tetap saja berucap “Ahad, ahad, ahad!”
Umayyah membujuk Bilal dengan janji akan membebaskannya dari siksaan bila ia mau berhenti mengucap kata itu. Tapi Bilal tidak peduli akan hal itu, ia tetap saja menggumamkan, “Ahad, ahad, ahad!”
Siksaan Terberat Bilal
Umayyah tidak menyerah dalam menyiksa Bilal. Ia menyuruh orang untuk memanaskan batu besar dan meletakkannya di atas dada Bilal. Itulah siksaan terberat bagi Bilal, tapi tentu saja siksaan itu tidak ada apa-apanya dibanding kenikmatan iman yang ia rasakan. Melihat siksaan yang bertubi-tubi pada Bilal, Abu Bakar datang pada Umayyah untuk membebaskan Bilal.
Abu Bakar membeli Bilal dari majikannya dan membebaskan Bilal untuk beribadah dan mendalami Islam sebebas-bebasnya. Pasa saat Abu Bakar membeli Bilal, ayahnya berkata, “ Hai, Abu Bakar, mengapa kau bebaskan budak yang luka-luka. Ia tidak berguna”. Abu Bakar menjawab, “Saya tidak membebaskan budak untuk dipakai tenaganya, tapi karna Allah”. Sebelum memeluk Islam, Umar memanggil Bilal budak. Akan tetapi begitu Bilal masuk Islam, ia memanggilnya tuan. Umar berkata, “Abu Bakar adalah tuan kami dan pemimpin kami yang telah membebaskan tuan kami, Bilal”.
Bilal merupakan salah seorang sahabat yang mendahului Raasulullah di Surga. Tapi tentu saja tidak ada seorang pun yang bisa menandingi keutamaan beliau SAW. Hanya saja sebutan “mendahului Nabi di Surga” memang disebut sebagai kabar gembira bagi Bilal yang amalan ibadahnya menyaingi Rasulullah hingga ke Surga. Lalu amalan Bilal yang mana yang disebut mendahului Rasulullah?
“Nabi memanggil Bilal di depan para sahabat, ’wahai Bilal, apa yang kau lakukan sampai engkau mendahuluiku di surga?’ Bilal menjawab, “Ya Rassulullah, amalan yang saya lakukan adalah, saya tidak pernah azan kecuali saya salat 2 rakaat setelahnya. Kalau pun saya batal, saya akan berwudhu, lalu salat 2 rakaat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Bilal melakukan hal itu padahal Nabi SAW tidak menganjurkannya. Namun, itu bukanlah sesuatu yang dilarang atau bid’ah, karena Nabi masih hidup dan beliau tidak melarangnya. Itulah amalan yang menyebabkan Bilal mendahului Nabi SAW di Surga. Berbeda dengan orang muslim pada umumnya yang sangat merindukan Surga, Bilal justru dirindukan oleh Surga.
Nabi bersabda, “Sungguh Surga merindukan 3 orang; Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir dan Bilal bin Rabah. Semuanya hanya karna keimanan kepada Allah SWT”.
Asal Mula Panggilan Azan
Sebelum kalimat-kalimat azan yang dikumandangkan seperti sekarang ini, ada beberapa usulan yang diajukan untuk memanggil umat Islam pada waktu salat tiba. Ada yang mengusulkan menggunakan lonceng seperti orang Nasrani, ada yang berpendapat menggunakan terompet seperti orang Yahudi. Tapi Rasulullah tidak menyukai hal itu.
Hingga suatu hari Abdullah bin Zaid bin Sa’labah bermimpi ingin membeli lonceng dari seseorang, tapi orang tersebut justru memberitahukan pengganti terbaik untuk memanggil umat Islam salat, yaitu dengan kalimat:
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu allaailaaha illallah 2x
Asyhadu anna muhammadar rasuulullah 2x
Hayya alasholah 2x, hayya ‘alalfalah 2x
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah
Rupanya Umar bin Khaththab pun memimpikan hal yang sama. Akhirnya Rasulullah memilih seorang yang bersuara lantang dan bagus, yakni Bilal bin Rabah.
Kontributor : Nia Hanie
http://www.bloggermuslimah.id
"Memanfaatkan peta satelit Google Earth, lokasi situs perahu Nabi Nuh AS itu terletak pada ketinggian sekitar 2.000 dpl (dari permukaan laut). Lokasinya berada di kaki bukit yang agak rata. Sedangkan, di daerah sekitarnya masih ada lembah raksasa yang memiliki ketinggian jauh lebih rendah.
Berdasarkan hal tersebut, perahu Nabi Nuh AS diperkirakan mendarat pada saat banjir masih belum benar-benar surut. Hal ini juga menunjukkan kondisi topografi di sekitar situs perahu Nabi Nuh AS sangat mendukung untuk terjadinya banjir besar.
Keberadaan kapal Nuh di pegunungan Ararat itu diyakini para peneliti arkeologi sebagai penemuan paling heboh di dunia, selain Mumi Firaun dan Piramida. Sebab, penelitian itu dilakukan ratusan kali dengan melibatkan para pakar dan ahli geologi, arkeologi, dan pesawat luar angkasa untuk mengawasi dan memotret pegunungan Ararat. Dan, 'penemuan' itu dianggap paling heboh dan teramat berharga, karena peristiwa itu terjadi lebih dari 5.000 tahun lalu.
Di sekitar objek tersebut, juga ditemukan sebuah batu besar dengan lubang pahatan. Para peneliti percaya bahwa batu tersebut adalah drogue-stones. Pada zaman dulu, batu tersebut biasanya dipakai pada bagian belakang perahu besar untuk menstabilkan perahu. Para peneliti juga menemukan sesuatu yang tidak lazim pada batu tersebut, yakni adanya sebuah molekul baja yang diperkirakan berusia ribuan tahun lalu dan dbuat tangan manusia. Karena itu, mereka meyakini tempat tersebut adalah jejak pendaratan perahu Nuh.
Dari beberapa foto-foto yang dihasilkan, lokasi pegunungan Ararat itu memang menunjukkan adanya sebuah perahu yang sangat besar. Ukuran perahu itu diperkirakan memiliki luas 7.546 kaki dengan panjang sekitar 500 kaki, lebar 83 kaki, dan tinggi 50 kaki.
Baidawi, salah seorang peneliti Muslim menjelaskan, ukuran kapal itu sekitar 300 hasta (panjang sekitar 50 meter dan luas 30 meter) dan terdiri atas tiga tingkat. Di tingkat pertama, diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan. Lalu, pada tingkat kedua ditempatkan manusia, dan yang ketiga burung-burung.
Artikel terkait : Kesabaran Nabi Nuh
Ada juga yang berpendapat, kapal Nuh itu berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola. Luas pada bagian dalamnya cukup untuk menampung ratusan ribu manusia. Dan, jarak dari satu tingkat ke tingkat lainnya mencapai 12 hingga ke 13 kaki. Juga, hewan-hewan dari berbagai spesies itu jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu ekor. Menurut Dr Whitcomb, dalam perahu itu terdapat sekitar 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibi, dan sisanya umat Nabi Nuh. Adapun berat perahu itu diprediksikan mencapai 24.300 ton.
Menurut sejumlah penelitian, perahu Nabi Nuh itu diperkirakan dibuat
sekitar tahun 2465 SM (Sebelum Masehi). Dan, beberapa sarjana
berpendapat, perahu Nabi Nuh itu dibangun di sebuah tempat bernama
Shuruppak, yaitu sebuah kawasan yang terletak di selatan Irak.
Jika
ia dibangun di selatan Irak dan akhirnya terdampar di Utara Turki,
kemungkinan besar bahtera tersebut telah terbawa arus air sejauh kurang
lebih 520 km.
Kebenaran penemuan itu masih diperdebatkan banyak pihak. Namun, sejumlah peneliti percaya bahwa pegunungan Ararat adalah tempat berlabuhnya kapal Nuh. Alquran tidak menyebutkan nama sebuah gunung kecuali nama al-Judi, yang berarti sebuah tempat yang tinggi.
Pegunungan Ararat dikenal sebagai gunung yang unik di Turki. Keunikannya hampir setiap hari akan tampak pelangi dari sebelah utara puncak gunung. Di Turki, pegunungan Ararat ini dikenal pula sebagai salah satu gunung yang memiliki puncak terluas di dunia dan tertinggi di Turki. Puncak tertingginya mencapai 16,984 kaki dpl. Sedangkan, puncak kecilnya setinggi 12,806 kaki. Menurut para ahli, jika seseorang berhasil menaklukkan puncak besarnya, mereka akan menyaksikan tiga wilayah negara dari atasnya, yakni Rusia, Iran, dan Turki.
Pada sebuah kesempatan, Imam Ali bin Abi Thalib kw. pernah mewasiatkan tiga hal terkait nikmat, kesibukan, dan pelajar. Apa saja dan bagaimanakah penjelasan wasiat tersebut? Berikut artikelnya:
Sesungguhnya di antara sekian banyak nikmat itu, cukuplah bagimu Islam sebagai nikmat; di antara sekian banyak kesibukan itu, cukuplah ketaatan kepada Allah sebagai kesibukanmu; dan di antara sekian banyak pelajaran itu, cukuplah maut (kematian) sebagai pelajaran bagimu." Demikian salah satu wasiat agung Imam Ali ra dalam suatu riwayat.
Tentu, kenikmatan apapun sejatinya tak ada artinya jika seseorang tidak memeluk Islam, menjadi Muslim. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat banyak harta, nikmat memiliki anak-istri, nikmat jabatan, dll tak akan berarti tanpa adanya nikmat Islam. Sebab, semua nikmat tersebut sesungguhnya bersifat semu dan sementara. Semua itu akan meninggalkan atau ditinggalkan manusia. Saat ajal menjemput, tak akan ada lagi nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat banyak harta, nikmat memiliki anak-istri, nikmat jabatan dll. Semua berakhir. Yang tersisa jika seseorang itu Muslim tinggal nikmat Islam, yang akan terus mengiringi dirinya sampai ia menghadap kepada Allah SWT pada Hari Akhir nanti.
Karena itu, alangkah rugi manusia yang tak memeluk Islam. Alangkah rugi pula orang yang telah memeluk Islam tetapi menyia-nyiakan keberislamannya, tidak berusaha menjadi Muslim sejati, yakni Muslim yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT.
Selanjutnya, dari wasiat Imam Ali ra di atas, mengenai ketaatan kepada Allah SWT semestinya menjadi kesibukan kita setiap hari. Dengan itu, tak ada waktu lagi bagi kita untuk bermaksiat kepada-Nya. Sebab, setiap desah nafas kita, detak jantung kita, getar kalbu kita, pandangan mata kita, pendengaran telinga kita, kata yang meluncur dari lisan kita, gerak tangan kita dan ayunan langkah kita, semua itu benar-benar sarat dengan nuansa ketaatan kepada Allah; tak ada sedikit pun tersisa untuk bermaksiat kepada-Nya. Itulah sejatinya aktivitas yang selalu mengisi kesibukan kita.
Terakhir, dari wasiat Imam Ali ra di atas, bahwa pelajaran yang paling berharga dalam hidup ini adalah mengingat mati serta mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap kematian. Betapapun banyak pelajaran (ilmu) yang kita pelajari hingga kita menjadi seorang ahli ilmu, tentu semua itu tak bermakna apa-apa jika membuat diri kita melupakan kematian yang menjadi pintu gerbang bagi kita menuju alam akhirat; Hari Akhir; Hari Perhitungan; Hari Penentuan apakah kita akan menjadi penduduk surga atau penduduk neraka. Intinya, segala pelajaran yang kita reguk dari berbagai majelis ilmu semestinya selalu mengingatkan kita pada satu hal: kematian. Makin banyak pelajaran yang kita reguk, makin membuat kita ingat akan mati. Makin kita mengingat mati, makin zuhud kita terhadap dunia. Sebab, kita amat memahami wasiat para salafush-shalih, "Siapa saja yang bertambah ilmu (pelajaran)-nya, tetapi tidak bertambah kezuhudannya terhadap dunia, maka ia tidak bertambah di sisi Allah SWT kecuali semakin jauh dari-Nya."
(Baca Juga: Hafal 30 Juz Al Quran Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh bisa! Mau Tahu Caranya?)
Jika kita makin zuhud terhadap dunia, orientasi hidup kita pun makin mengarah ke alam akhirat dengan selalu mempersiapkan bekal untuk meng-hadap-Nya. Sebab, kita pun tentu amat memahami kata-kata penuh hikmah dari Sayidina Abu Bakar ash-Shidiq ra dalam suatu riwayat, "Siapa saja yang masuk kubur tanpa bekal, dia seperti orang yang mengarungi lautan tanpa kapal."
Ungkapan ini bermakna, siapa saja yang meninggalkan alam dunia ini dan masuk ke alam barzakh, sementara dia tidak membawa amal shalih, dia pasti akan 'tenggelam' dalam lautan azab-Nya.
Perumpamaan ini tentu tepat karena amal-amal shalih memang merupakan satu-satunya bekal yang bisa menyelamatkan setiap manusia dari lautan azab Allah SWT pada Hari Akhirat nanti.
Hari Akhirat sesungguhnya amat dekat, sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas apa yang kalian kerjakan." (TQS al-Hasyr [59]: 18).
Terkait ayat di atas, di dalam tafsirnya Imam al-Qurthubi antara lain mengatakan: Pertama, hari esok (al-ghad) maknanya adalah Hari Kiamat. Disebut demikian karena dekatnya waktu kedatangan hari tersebut sehingga seperti esok hari. Artinya, Hari Kiamat pasti tiba. Sesuatu yang pasti tiba adalah dekat (Kullu ât[in] qarîb). Kedua, yang telah diperbuat (mâ qaddamat) maknanya mencakup semua amal baik maupun amal buruk. Maksudnya, setiap manusia hendaknya memperhatikan perbuatan baik atau perbuatan buruk yang telah dia lakukan, yang pasti akan mendatangkan konsekuensi di akhirat nanti: pahala atau siksa/surga atau neraka.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh.
"Berkata Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullahu Ta'ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah SAW. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dIbuat dari bulu. Ia adalah seorang Ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.
Setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Al Mubarak, Wanita Tua itu selau menjawab dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur'an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Abdullah : "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh."
Wanita Tua : "Salaamun qoulammin robbirrohiim." (QS. Yaasin : 58) ("Salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang")
Abdullah : "Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini ?"
Wanita Tua : "Wa man yudhlilillahu falaa haadiyalahu." (QS : Al-A'raf : 186) ("Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya")
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia sedang tersesat.
Abdullah : "Kemana anda hendak pergi ?"
Wanita Tua : "Subhaanalladzia asraa bi'abdihia lailan minal Masjidil haraami ilal Masjidil aqsa." (QS. Al-Isra' : 1) ("Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba Nya di waktu malam dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsa")
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke Masjid Al Aqsa.
Abdullah : "Sudah berapa lama anda berada di sini ?"
Wanita Tua : "Tsalaatsa layaalin sawiyya" (QS. Maryam : 10) ("Selama tiga malam dalam keadaan sehat")
Abdullah : "Apa yang anda makan selama dalam perjalanan ?"
Wanita Tua : "Huwa yuth'imunii wa yasqiin" (QS. As-syu'ara' : 79) ("Dialah Pemberi aku makan dan minum")
Abdullah : "Dengan apa anda melakukan wudhu ?"
Wanita Tua : "Faillam tajiduu maa-an fatayammamuu sha'iidan thoyyiban" (QS. Al-Maidah : 6) ("Bila tidak ada air, maka bertayamumlah dengan tanah yang bersih")
Abdullah : "Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya ?"
Wanita Tua : "Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil" (QS. Al-Baqarah : 187) ("Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam")
Abdullah : "Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa ?"
Wanita Tua : "Waman tathawwa'a khairon fa innallaaha syaakirun 'aliim." (QS. Al-Baqarah : 158) ("Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui")
Abdullah : "Bukankah diperbolehkan berbuka ketika safar ?"
Wanita Tua : "Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta'lamuun." (QS. Al-Baqarah : 184) ("Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui")
Abdullah : "Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya ?"
Wanita Tua : "Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiIbun 'atiid." (QS. Qaf : 18) ("Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib 'Atid"
Abdullah : "Anda termasuk jenis manusia yang mAnakah, hingga bersikap seperti itu ?"
Wanita Tua : "Walaa taqfu maa laisa bihia 'ilmun. Inna sam'a wal bashooro wal fuaada, kullu ulaaika kaana 'anhu mas'uula." (QS. Al-Isra' : 36) ("Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan")
Abdullah : "Saya telah berbuat salah, maafkan saya."
Wanita Tua : "Laa tastriiba 'alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum." (QS.Yusuf : 92) ("Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu")
Abdullah : "Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan."
Wanita Tua : "Wa maa taf'alu min khoirin ya'lamhullah." (QS Al-Baqoroh : 197) ("Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya"). Lalu Wanita Tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :"Qul lil mu'miniina yaghdudhna min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30) ("Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka")
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap : "Wa maa 'ashoobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum." (QS. Asy-Syura' 30) ("Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri")
Abdullah : "Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu."
Wanita Tua : "Fa fahhamnaaha sulaiman." (QS. Anbiya' 79) ("Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman") Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan Wanita Tua itu naik.
Abdullah : "Silahkan naik sekarang."
Wanita Tua : "Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolIbuun." (QS. Az-Zukhruf : 13-14) ("Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada Tuhan kami")
Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang.
Wanita itu berkata : "Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS. Lukman : 19) ("SederhAnakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu") Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair,
Wanita Tua itu berucap : "Faqraa-uu maa tayassara minal qur'aan" (QS. Al- Muzammil : 20) ("Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur'an")
Abdullah : "Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak."
Wanita Tua : "Wa maa yadzdzakkaru illaa uulul albaab." (QS Al-Baqoroh : 269) ("Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu")
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya : "Apakah anda mempunyai suami ?"
Wanita Tua : "Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS. Al-Maidah : 101) ("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu")
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya : "Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?"
Wanita Tua : "Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya." (QS. Al-Kahfi : 46) ("Adapun harta dan Anak-Anak adalah perhiasan hidup di dunia")
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai Anak.
Abdullah : "Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini ?"
Wanita Tua : "Wa 'alaamatin wabin najmi hum yahtaduun" (QS. An-Nahl : 16) ("Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk")
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama Wanita Tua ini saya menuju perkemahan.
Abdullah : "Adakah orang yang anda kenal atau keluarga dalam kemah ini ?"
Wanita Tua : "Wattakhodzallahu ibrohima khalilan" (QS. An-Nisa' : 125) ("Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi")
"Wakallamahu muusaa takliima" (QS. An-Nisa' : 146) ("Dan Allah berkata-kata kepada Musa")
"Ya yahya khudil kitaaba biquwwah" (QS. Maryam : 12) ("Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh")
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah Anak-Anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga Anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.
Wanita Tua : "Fab'atsuu ahadakum bi warikikum hadzihii ilal madiinati falyandzur ayyuhaa azkaa tho'aaman fal ya'tikum bi rizkin minhu." (QS. Al-Kahfi : 19) ("Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu")
Maka salah seorang dari tiga Anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu
Perempuan tua itu berkata : "Kuluu wasyrobuu hanii'an bimaa aslaftum fil ayyaamil khooliyah" (QS. Al-Haqqah : 24) ("Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu")
Abdullah : "Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah Perempuan ini sebenarnya."
Ketiga Anak muda ini secara serempak berkata : "Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun
Beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an, karena khawatir salah berbicara."
Maha Suci Zat Yang Maha Kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakiNya. Akhirnya saya pun berucap : "Fadhluhu yu'tihi man yasyaa' Wallaahu dzul fadhlil adhiim." (QS. Al-Hadid : 21) ("Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar")
[Diambil dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168]
http://alkisaah.blogspot.co.id/
"Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. ‘Ulama Ahli Hukum Islam itu pun di penjara. Sang Penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya.
Dalam penjara, ‘Ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih sebenarnya bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan Ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada Ibunya.
Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama Ibunya kembali.
“Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada ?” tanya Abu Hanifah.
“Alhamdulillah......Ibu baik-baik saja,” jawab Ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.
Abu Hanifah kembali menekuni ilmu Agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi Ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang Anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukanlah seorang ‘Ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.
Suatu hari, Ibunya bertanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Tetapi, Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.
“Aku tak mau mendengar kata-katamu,” ucap Ibu Hanifah. “Aku hanya percaya pada fatwa Zar’ah Al Qas,” katanya lagi.
Zar’ah Al Qas adalah seorang ‘Ulama yang pernah belajar ilmu Hukum Islam kepada Abu Hanifah.
“Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,” pinta Ibunya.
Mendengar ucapan Ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar Ibunya ke rumah Zar’ah Al Qas.
“Saudaraku Zar’ah Al Qas, Ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat,” kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar’ah Al Qas.
Zar’ah Al Qas terheran-heran, kenapa Ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu ? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ‘Ulama ? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.
“Tuan, Anda kan seorang ‘Ulama besar ? kenapa Anda harus datang kepadaku ?” tanya Zar’ah Al Qas.
“Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda,” sahut Abu Hanifah.
Zar’ah tersenyum, ”Baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda,” kata Zar’ah Al Qas akhirnya.
“Ucapkanlah fatwamu,” kata Abu Hanifah tegas.
Lalu Zar’ah Al Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.
“Aku percaya kalau kau yang mengatakannya,” kata Ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar’ah Al Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.
Dua hari kemudian, Ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis ‘Umar bin Zar. Lagi – lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah Ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan Ibunya dengan mudah.
‘Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan Ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.
“Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya ?” kata ‘Umar bin Zar.
Abu Hanifah tetap meminta fatwa ‘Umar bin Zar sesuai permintaan Ibunya. “Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar,” kata Abu Hanifah.
‘Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada Ibunya.
“Baiklah, kalau begitu apa jawaban anda atas pertanyaan Ibu Anda ?”
Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan. “Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada Ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,” ucap ‘Umar bin Zar sambil tersenyum.
Abu Hanifah pulang membawa fatwa ‘Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan ‘Umar bin Zar.
Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah Ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun Beliau seorang ‘Ulama yang sangat pintar.
http://alkisaah.blogspot.co.id/
"Pada mulanya Hasan dari Bashrah adalah seorang pedagang batu
permata, karena itu ia dijuluki Hasan si pedagang mutiara. Hasan mempunyai
hubungan dagang dengan Bizantium, karena itu ia berkepentingan denga para
Jenderal dan Menteri Kaisar, dalam sebuah peristiwa ketika bepergian
ke Bizantium, hasan mengunjungi Perdana Menteri dan mereka berbincang-bincang
beberapa saat.
“Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat”, si menteri
mengajak Hasan.
“Terserah kepadamu,” jawab Hasan, “Ke mana pun aku menurut.”
Si menteri memerintahkan agar disediakan seekor kuda untuk Hasan.
Si menteri naik ke punggung kudanya, Hasan pun melakukan hal yang serupa,
setelah itu berangkatlah mereka menuju pdang pasir. Sesampainya di tempat
tujuan, Hasan melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium, diikat
dengan tali sutra dan di pancang dengan tiang emas di atas tanah. Hasan berdiri
di jejauhan.
Tak berapa lama kemudian muncul lah sepasukan tentara perkasa
dengan perlengkapan perang yng sempurna. Mereka lalu mengelilingi tenda itu,
neggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi. Setelah itu muncul para filosof
dan cerdik pandai yang hampir empat ratus orang jumlahnya. Mereka mengelilingi
tenda itu, menggumamkan beberpa patah kata kemudian berlalu dari tempat itu.
Datang lagi tigaratus orang-rang tua yang arif bijak sana dan berjanggut putih,
mereka menghampiri dan mengelilingi tenda itu, lalu menggumamkan beberapa patah
kata, kemudian berlalu, Akhirnya datang pula lebih dari dua ratus perawan
cantik masing-masing mengusung nampan penuh dengan emas, perak dan batu
permata, mereka mengelilingi tenda itu dan menggumamkan beberapa patah kata
kemudian pergi meniggalkannya. Hasan mengissahkan betapa ia sangat heran
menyaksikan kejadian-kejadian itu dan bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah
artinya semuanya itu?
“Ketika kami meninggalkan tempat itu”, Hasan meneruskan kisahnya,
“Aku bertanya kepada si perdana menteri, Si perdana menteri menjawab bahwa
dahulu Kaisar mempunyai seorang putera yang tampan, menguasai berbagai cabang
ilmu pengetahuan dan tak terkalahkan di dalam arena kegagah perkasaan. Kaisra
sangat sayang kepada puteranya itu. Tanpa terduga-duga, si pemuda jatuh sakit.
Semua tabib paling ahli sekalipun tidak mampu menyembuhkan penyakitnya.
Akhirnya si pemuda putera mahkota itu meninggal dan dikuburkan di bawah naungan
tenda tersebut. Setiap tahun orang-orang datang berziarah ke kuburannya”.
Sepasukan tentara yang mula-mula mengelilingi tenda tersebut
berkata : “Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini
terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk
menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimmpamu ini datang dari Dia yang tak
sanggup kami perangi dan tak dapat kami tantang”. Stelah berucap seperti itu
merekapun berlalu dari tempat itu.
Kemudian tiba lah giliran para filosof dan cerdik pandai. Mereka
berkata : Malapetaka yag menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak dapat
kami lawan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan tipu muslihat. Karena semua
filosof di atas bumi ini tidak berdaya menghadapi-Nya dan semua cerdik pandai
hanya orang-orang dungu di hadapan-Nya. Jika tidak demikian halnya, kami telah
berusaha dengan mengajukan dalih-dalih yang tak dapat di pantah oleh siapa pun
di alam semesta ini:. Setelah berucap demikian para filosof dan cerdik pandapi
itu pun berlalu dari tempat tersebut.
Selanjutnya orang-orang tua yang mulia tampil seraya berkata :
“Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini dapat
dicegah oleh campur tangan orang-orang tua, niscaya kami telah mencegahnya
dengan do’a do’a kami yang rendah hati ini, dan pastilah kami tidak akan
meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tetapi malapetaka yang
ditimpakan kepadamu datang dari Dia yang sedikit pun tak dapat
dicegah oleh campurtangan manusia-manusia yang lemah”. Setelah kata-kata ini
mereka ucapkan merekapun berlalu.
Kemudian dara-dara cantik dengan nampan-nampan berisi emas dan
batu permata datang menghampiri, mengelilingi tenda itu dan berkata : “Wahai
putera Kaisar, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa ditebus
dengan kekayaan dan kecantikan, niscaya kami merelekan diri dan harta kekayaan
kami yang banyak ini untuk menebusmmu dan tidak kami tinggalkan engkau di
tempat ini. Namun mala petaka ini ditimpakan oleh Dia yang tak dapat
dipengaruhi oleh harta kekayaan dan kecantikan.” Setelah berkata-kata ini
mereka ucapkan, merekapun meninggalkan tempat itu.
Terakhir sekali Kaisar beserta perdana menteri tampil, masuk ke
dalam tenda dan berkata : “Wahai biji mata dan pelita hati ayahanda! Wahai buah
hati ayahanda! Apakah yang dapat dilakukan oleh ayahanda ini? Ayah handa telah
mendatangkan sepasukan tentara yang perkasa, para filosof dan cerdik pandai,
para pawang dan penasehat, dan dara-dara cantik yang jelita, harta benda dan
segala macam barang-barang berharga. Dan ayahanda sendiri pun telah datang.
Jika semua ini ada faedahnya, maka ayahanda pasti melakukan segala sesuatu yang
dapat ayahanda lakukan. Tetapi malapetaka ini telah ditimpakan kepadamu oleh
Dia yang tidak dapat dilawan oleh ayahanda beserta segala aparat, pasukan,
pengawall, harta benda dan barang-barang berharga ini. Semoga engkau
mendapat kesejahteraan, selamat tinggal sampai tahun yang akan datang.”
Kata-kata ini diucapkan sang Kaisar kemudian ia berlalalu dari tempat itu.
Pengisahan si menteri ini sangat menggugah hati Hasan. Ia tidak
dapat melawan dorongan hatinya. Dengan segera ia bersiap-siap untuk kembali ke
negerinya. Sesampainya di kota Bashrah ia bersumpah tidak akan tertawa lagi
di atas dunia ini sebelum mengetahui dengan pasti bagaimana nasib
yang akan dihadapinya nanti. Ia melakukan segalam macam kebaktian dan disiplin
diri yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun pada masa hidupnya.
http://kisahteladan.web.id
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Pada zaman Baginda Nabi Muhammad saw,
ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bidang dadanya lapang
panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, wajahnya
selalu melihat pada tempat sujudnya dan tangan kanannya menumpang pada
tangan kirinya.
Pemuda ini tidak pernah lalai dari membaca
al-Quran dan senantiasa menangis. Pakaiannya hanya dua helai saja, sudah
terlalu lusuh untuk dipakai sehinggakan tidak ada orang yang
menghiraukannya.
Beliau tidak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit. Pemuda ini, jika bersumpah demi Allah
pasti terkabul.
Dia adalah Uwais al-Qarni. Beliau tidak dikenali dan miskin malah
banyak orang yang suka mentertawakannya, mengejek-ejeknya, dan
menuduhnya sebagai pencuri serta bermacam lagi penghinaan dilemparkan
kepadanya.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim,
tidak mempunyai saudara mara kecuali hanya ibunya yang telah tua dan
lumpuh. Untuk menyara kehidupan sehari-hari, Uwais bekerja sebagai
penggembala kambing.
Upah yang diterimanya hanya cukup untuk
kehidupan harian bersama ibunya.Jika ada uang lebihan, beliau akan
membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti
keadaannya. Walaupun dalam keadaan serba payah, beliau tidak pernah
lalai dalam mengerjakan ibadahnya, sedikit pun tidak berkurang.
Sepanjang hidupnya, beliau melakukan puasa di siang hari dan bermunajat
di malam harinya. Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri
Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad saw yang telah mengetuk pintu hati
mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu
bagi-Nya.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalam agama
Islam sangat menarik hati Uwais dan apabila seruan Islam datang di
negeri Yaman, beliau segera memeluknya. Banyak rekan-rekannya yang telah
memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengar secara langsung dakwah
Nabi Muhammad saw.
Hati Uwais juga meronta-ronta untuk ke
Madinah bertemu kekasih Allah, penghulu para Nabi tetapi beliau tidak
mampu karena tidak mempunyai bekal yang cukup untuk sampai kesana. Apa
lagi beliau perlu menjaga ibunya. Jika beliau pergi, siapa pula yang
akan melihat ibunya.
Dikisahkan ketika terjadi perang Uhud,
Rasulullah saw mengalami cidera dan giginya patah karena dilempari batu
oleh musuh-musuhnya.
Berita ini akhirnya sampai kepada Uwais.
Lalu ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut
dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada baginda saw, sekalipun
beliau belum pernah melihat Rasulullah saw.
Hari berganti hari
dan musim pun berlalu, kerinduannya terhadap Rasulullah tak dapat
dibendung lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bisakah
dirinya baru dapat menziarahi Nabi saw dan memandang wajah beliau dari
dekat?
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya,
mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar
diperkenankan pergi menziarahi Nabi saw di Madinah.
Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memahami perasaan Uwais, dan berkata,
Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi dirumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.
Dengan perasaan gembira yang amat sangat, Uwais berkemas untuk
berangkat dan sebelum pergi, beliau menyiapkan keperluan ibunya yang
akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani
ibunya sepanjang kepergian beliau. Sesudah mencium tangan ibunya yang
tercinta, berangkatlah Uwais menuju ke Madinah yang jaraknya sekitar
empat ratus kilometer dari Yaman.
Dengan waktu yang cukup lama
akhirnya tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segeralah ia menuju ke
rumah Nabi saw, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam.
Keluarlah Sayyidatina Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera
saja Uwais menanyakan Nabi saw yang ingin ditemuinya.
Namun
ternyata baginda saw tidak berada di rumah melainkan berada di medan
perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi
yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak
perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi,
beliau teringat akan pesan ibunya sudah tua dan senantiasa dalam keadaan
tidak sehat itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, Engkau harus lekas
pulang. Disebabkan ketaatan kepada ibunya, pesanan ibunya itu telah
mengalahkan suara hati untuk menunggu Nabi saw.
Ia akhirnya
memohon kepada Sayyidatina Aisyah r.a. untuk pulang kembali ke Yaman.
Uwais lalu menitipkan salamnya kepada Nabi saw dan melangkah pulang
dengan perasaan hampa karena tidak dapat bertemu dengan Kekasih Allah.
Sepulangnya dari perang, Nabi saw langsung bertanya tentang kedatangan
orang yang mencarinya. Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa Uwais
al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Beliau adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit).
Mendengar perkataan baginda
Rasulullah saw, Sayyidatina Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun
seketika. Lalu kata Sayyidatina Aisyah r.a., memang benar sebelum ini
ada seseorang telah datang mencari Rasulullah saw tetapi orang itu
segera pulang ke Yaman, kerana teringat akan ibunya yang sudah tua dan
sakit sehinggakan beliau bimbang meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah saw bersabda : Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais
al-Qarni), perhatikanlah bahawa ia mempunyai tanda putih di
tengah-tengah telapak tangannya. Sesudah itu baginda saw, memandang
kepada Sayyidina Ali k.w. dan Sayyidina Umar r.a. lalu bersabda: Apabila
kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya untuk kalian
karena dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.
Tahun berganti tahun dan Umar r.a menjadi khalifah kedua menggantikan
Abu Bakar As-Siddiq yang telah wafat. Abu Bakar dipilih menjadi khalifah
selepas Rasulullah saw wafat.
Suatu ketika, khalifah Umar
teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni
langit. Beliau segera mengingatkan sahabatnya, Sayyidina Ali k.w. untuk
mencari Uwais bersama.
Sejak itu, setiap kali ada kafilah yang
datang dari Yaman, mereka berdua akan bertanya tentang Uwais al-Qarni,
apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang
merasa heran, apakah sebenarnya yang dicari oleh kedua-dua sahabat besar
itu. Rombongan kafilah dari Yaman menuju ke Syam silih berganti membawa
barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut
bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan
kafilah yang datang dari Yaman, bersegeralah khalifah Umar r.a. dan
Sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut
bersama mereka.
Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama
mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar
jawapan itu, mereka berdua bergegas menemui Uwais al-Qarni. Sesampainya
di tempat Uwais, Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. memberi
salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri
solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil
bersalaman.
Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera
membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang
berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh
baginda Nabi saw. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais
oleh kedua tamu tersebut, Siapakah nama saudara?
Lalu jawab
Uwais, Abdullah. Mendengar jawaban itu, kedua sahabat itupun tertawa dan
mengatakan : Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah
namamu yang sebenarnya ?
Uwais kemudian berkata: Nama saya Uwais al-Qarni.
Sepanjang perkenalan mereka, tahulah mereka bahwa ibu Uwais telah
meninggal dunia. Itulah sebabnya, beliau baru dapat turut serta bersama
rombongan kafilah dagang itu.
Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali
k.w. memohon agar Uwais berkenan mendoâkan untuk mereka. Uwais enggan
dan dia berkata kepada khalifah: Sayalah yang harus meminta doa dari
kalian. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: Kami datang ke sini
untuk mohon doa dan istighfar dari tuan.
Disebabkan didesak
oleh dua sahabat besar ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua
belah tangannya lalu berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu
Khalifah Umar r.a. berjanji untuk memberinya uang negara dari Baitul Mal
kepada Uwais sebagai biaya hidupnya. Uwais menolaknya dengan lembut
dengan berkata: Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang.
Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak
diketahui orang lagi.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali
tenggelam dan tidak langsung terdengar beritanya. Tapi diriwayatkan ada
seorang lelaki pernah bertemu dan dibantu oleh Uwais. Kata orang itu,
waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju ke tanah Arab bersama
para pedagang, tanpa disangka-sangka angin ribut bertiup dengan kencang.
Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk
ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.
Pada saat
itu, kami melihat seorang lelaki yang mengenakan selimut berbulu di
berada di satu sudut kapal lalu kami memanggilnya. Lelaki itu bangun
lalu melakukan solat di atas air.
Betapa terkejutnya kami
melihat kejadian itu. Wahai waliyullah, Tolonglah kami! Tetapi lelaki
itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, Demi Zat yang telah memberimu
kekuatan beribadah, tolonglah kami! Lelaki itu menoleh kepada kami dan
berkata: Apa yang terjadi? Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dibadai
ribut dan dihantam ombak ?tanya kami.
Dekatkanlah diri kalian
pada Allah ! katanya. Kami telah melakukannya. Keluarlah kalian dari
kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim! Kami pun keluar dari
kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami yang lain tenggelam ke dasar laut bersama isinya.
Lalu orang itu berkata pada kami , Tidak mengapalah harta kalian
menjadi korban asalkan kalian semua selamat. Demi Allah, kami ingin
tahu, siapakah nama Tuan ? Tanya kami.
Uwais al-Qarni. Jawabnya
dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, Sesungguhnya
harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di
Madinah yang dikirim oleh orang Mesir. Jika Allah mengembalikan harta
kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir
di Madinah? tanya Uwais.
Ya,jawab kami. Orang itu pun
melaksanakan solat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais
al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air,
lalu kami menaikinya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah,
kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah
sehingga tidak ada satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu
kemudian, tersiarlah khabar bahawa Uwais al-Qarni telah pulang ke
rahmatullah. Anehnya, pada saat dia hendak dimandikan tiba-tiba terlalu
banyak orang yang berebut hendak memandikannya. Dan ketika dibawa ke
tempat pembaringan untuk dikafankan, begitu ramai orang yang menunggu
untuk mengkapannya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali
kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya
hingga selesai.
Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebut hendak mengusungnya.
Meninggalnya Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan penduduk Yaman. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenali datang untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampailah ketika jenazahnya hendak
diturunkan ke dalam kubur, ada saja orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman
tercengang. Mereka tertanya-tanya: Siapakah sebenarnya engkau wahai
Uwais al-Qarni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir
yang tidak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala
kambing dan unta? Tetapi, ketika hari wafatmu, engkau telah
menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang
tidak pernah kami kenal.
Mereka datang dalam jumlah sedemikian
banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi,
hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah
penduduk Yaman mengetahui siapa Uwais al-Qarniyang ternyata tidak
terkenal di bumi tapi terkenal di langit.
Translate
About Me












